Logika Cinta pada Pandangan Pertama

Logika Cinta pada Pandangan Pertama

Mari kita memulai hal ini dengan membayangkan gombalan yang terus dipelihara selama berabad-abad; aku mencintaimu sejak pandangan pertama.

Tidak jelas siapa yang pertamakali menggunakannya, atau yang pertamakali menulisnya, tapi kita tetap mendengar pernyataan yang diklaim sebagai pernyataan cinta ini.

Meski kita tidak benar-benar menyentuh mengenai kebenarannya, klaim akan perasaan istimewa tersebut pada akhirnya menjadi stereotip yang diaminkan oleh orang hampir secara keseluruhan. Padahal, kita tidak pernah tahu, pada dasarnya, apa yang sebenarnya terjadi ketika seseorang memiliki gejolak dalam dirinya saat menjatuhkan pandangannya kepada seorang yang lain.

Bicara tentang cinta, bukan sekadar berbicara tentang obsesi dan hal receh lainnya—kecuali jika cintanya dikemas per sachet. Perasaan istimewa yang menghinggapi seluruh jiwa manusia ini perlu keseriusan yang dengan demikian kita perlu menampik sedikit lebih keras stereotip yang mengada-ada itu; cinta pada pandangan yang pertama.

Loading...

Stephanie Ortigue, seorang neuroscientist melakukan penelitian mengenai reaksi otak manusia dengan apa yang disebut dengan cinta. Sebagaiamana penelitiannya, dalam Neuroimaging of Love: fMRI Meta‐Analysis Evidence toward New Perspectives in Sexual Medicine, terdapat 12 bagian otak yang mengalami reaksi khusus yang memenuhi otak manusia dengan hormone dopamine. Singkatnya, ketika seseorang memiliki gejolak dalam dirinya saat kali pertama menjatuhkan pandangannya ke seseorang, itu hanya reaksi ketertarikan hormon. Tidak lebih.

Lebih lanjut, Ortigue juga membedakan antara cinta (love) dan nafsu (lust). Baginya, setelah melakukan penelitian sekian lama, cinta merupakan konsep sosial yang lebih abstrak dan fenomena psikologis yang lebih kompleks dibanding nafsu (lust).

Tidak berhenti di situ, Ortigue juga mengatakan bahwa cinta memengaruhi empat dimensi lainnya; kimia, kognisi, preferensi, dan niatan untuk bersama dengan yang-dicintai. Namun, perkara cinta, semua manusia menginginkan keagungannya (yang bukan sachet-an) dan bukan pula yang hanya sekedar reaksi kimia pada otak dan ketertarikan hormon, setiap dari kita menginginkan cinta yang lebih dari itu.

Barangkali peradaban kita belum cukup untuk mendifinisikan cinta secara baik. Ada beragam definisi yang dikemukakan mengenai perasaan yang menghinggapi setiap manusia. Meski begitu, peradaban manusia pernah mengalami proses yang maju untuk memahami cinta yang bukan saja hidup pada tataran nafsu dan keinginan untuk bersama selamanya dengan seseorang.

Adalah Socrates yang saat itu mengkritik para Sophist (Bijaksana) dengan mencitrakan dirinya sebagai Philosphus (Pecinta Kebijaksanaan). Bagi Socrates, di antara segala kerumitan kehidupan manusia yang dihinggapi—meski diam-diam—oleh cinta, seorang manusia harus mencintai kebijaksanaan itu sendiri. Sama halnya dengan perasaan kasih sayang yang kita sebut “cinta”. Alhasil, hal tersebut yang disebut sebagai amour, love, atau cinta tidak lagi menjadi acuan yang receh yang hanya hidup karena efek placebo pada otak kita.

Di saat bersamaan, lahir terminologi yang menjelaskan tentang afeksi yang lebih kudus yang menyertakan kesimpulan bahwa kasih sayang tidak hanya harus berada pada pasangan yang menjadi hasrat dan diidam-idamkan, namun juga harus kepada manusia lain, kepada alam, kepada buah-buah pikir, kebebasan bentuk lain yang disebut Philantrophy yang alih-alih, juga, menjadi inspirasi dari istilah “filosofi”.

 Di sini, cinta tidak lagi semata-mata menjelaskan kasih sayang, tapi juga menekankan pada hal yang lebih luas, seperti penghambaan, penyerahan, dan terminologi lain yang mejelaskan tentang penyerahan diri terhadap kesempurnaan tanpa melupakan pengalaman-pengalaman lain yang tumbuh karenanya.

Padahal, secara logika itu sah-sah saja. Sebab, hal itu ada meski kita pupus mendefinisikan peristiwa apa yang tepat akan perasaan bergejolak saat pandangan pertama itu. Akan tetapi, faktanya jauh berbeda; reaksi hormon yang membuat kita rasa akan bahagia menjadi naik dan beredar cepat di dalam kepala. Wajar saja, manusia adalah makhluk visual dan memiliki ketertarikan hormon. Tapi, apakah cinta hanya sebatas penilaian visual manusia? Perasaan kudus itu berada jauh lebih dari pada itu.

Kemudian di sinilah letak kerumitannya lebih jauh; pun kita tidak bisa melulu menyandarkan hidup serta pilihannya yang didasarkan oleh sains. Pemikiran yang seperti itu hanya mengarahkan kita pada Scientism (mudahnya cara berpikiran yang segalanya harus berdasarkan sains sementara sains selalu berprinsip untuk terus skeptis). Sebagaimana hidup, ia tidak pernah untuk menjadi kaku seratus persen, akan terus menerus memiliki kejutan lain. Pun kita jangan terlalu kejam kepada diri sendiri dengan menjadikannya kaku.

Pada akhirnya, sebagaimana Pascal sebutkan; hati juga memiliki nalarnya sendiri, namun nalar tidak memiliki hati.

Tapi, tentang cinta dan kerumitannya, tidak boleh lagi dinyatakan dengan tergesa-gesa. Cinta, harus kudus pada hati masing-masing.

Dari mana datangnya doraemon? Dari masa depan lalu ke laci.

Dari mana datangnya cinta? Dari hormone masuk ke hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *