Musik Rock

Log Zhelebour; Presiden Rock Indonesia yang Sosialis dan Moderat

Sumber Foto: Senayanpost
Loading...

Awal tahun 2000, distorsi mulai lenyap. Tanda bahwa musik Indonesia kehilangan beberapa orang berambut gondrong di layar kaca televisi. Kepingan album X-Travaganza Boomerang di tahun 2000, dan terakhir di 2003, Jamrud mencapai puncak karir mereka, sebelum pada akhirnya perlahan “sulit” terdengar lagi.

Di lain sisi, genre pop mulai digantikan perannya oleh nada-nada melayu. Pasar berubah, beberapa industri musik melakukan konsolidasi genre terhadap para musisi yang akan bernaung di bawah label mereka. Beberapa label baru muncul dengan gerakan dasar mengusung band-band berlafaskan melayu. Pop-rock dan melayu bertarung, perlahan rock mulai tergusur dari panggung itu.

Sayup-sayup kita masih mendengar di permulaan tahun milenium tersebut sounds dari band-band seperti Boomerang, Jamrud, ataupun /Rif. Hingga akhirnya Kotak bertahan di penerusan tahun 2000, meski juga tak cukup mampu mewakili gaung musik Rock 90-an secara eksistensi genre. Dan Slank yang tak termakan hukum industri tersebut kesepian melaju sendiri.

Rock Indonesia pada rentang 70-an sampai pada 90-an tak lepas dari kerja keras seorang Log Zhelebour. Beberapa band seperti SAS, God Bless, hingga Lady Rocker sekelas Nicky Astria berada dalam pengaruh Log sebagai seorang promotor pertama kali, dan satu-satunya di Indonesia pada saat itu.

Log adalah mata air distorsi, yang membawa gaung Rock melintasi pulau-pulau Indonesia. Keberhasilan yang diperolehnya melalui insiden Jelly Tobing, sang penggebuk drum Superkid pada dekade 70-an, membawa Log paham betul antusiasme orang Indonesia tentang sebuah pertunjukan musik Rock. Insiden Jelly Tobing membuat pertunjukan Superkid terhenti, Log mendapat kecaman. Di situ, konser rock mulai dibawa ke segala penjuru. Log membayar kekecewaan banyak orang.

Sebagai satu-satunya promotor pada saat itu, Log adalah seorang sosialisme. Bahwa keseluruhan alat-alat produksi merupakan milik sang pemrakarsa dengan tetap memprioritaskan kesejahteraan musisi-musisi naungannya. Beralasan, bahwa Log hanya ingin segala properti pertunjukan berada dalam pengendaliannya. Menghindari kegamangan terhadap ketidaksiapan vendor-vendor properti panggung pada saat itu.

Kebijakan perekonomian yang membutuhkan waktu lama, hingga sekitar 5 set panggung menjadi aset tetap seorang Log. Melalui “Jarum Neraka”, Log memberikan sayap kepada Nicky Astria untuk terbang sebebas mungkin. Meski, pria yang sedikit agak tambun kelahiran Surabaya itu lebih gemar memproduseri sebuah grup.

Lebak Bulus, 1993. Kerusuhan konser Metallica membuat Log memendam ambisinya untuk mengeluarkan band kesayangannya pada saat itu. Kerusuhan yang santer terdengar berkat isu, ataupun sabotase para elit promotor musik lainnya, membuat genre Metal tak diperbolehkan hadir di layar televisi Nasional. Mimpi Log terkubur menghadirkan band yang menjadi kartu truf-nya saat itu. Power Metal diredam, dan hanya menjadi bayang-bayang grup Rock binaan Log pada tahun-tahun sesudahnya.

Boomerang dan Jamrud, protagonis andalan Log Zhelebour di bawah label Logiss Record. Industri yang melengkapi karir seorang Log dengan mengemas seluruh konsep kelahiran sebuah Band Rock. Di label itu, Log, jika kita analisis secara konsep bisnis, menerapkan apa yang kita kenal dengan murabahah dalam perilaku konsep perbankan syari’ah. Perilaku dengan membeli barang yang diperlukan nasabah, untuk kemudian menjualnya kepada nasabah yang bersangkutan sebesar harga perolehan ditambah dengan margin keuntungan yang disepakati antara bank dan nasabah.

Boomerang dibesarkan dengan segala peralatan yang awalnya dibiayai oleh Log, untuk kemudian dibayarkan kembali melalui potongan dari honor mereka. Jamrud, yang pada saat itu baru saja ditinggal Fitrah Alamsyah (gitar), dan Sandhy Handoko (Drum), membuat Log mendirikan Divisi Log Sound demi memanjakan musisinya yang sedang terpuruk secara mental.

Log seorang sosialis, yang bergerak ke tengah menuju barisan moderat, untuk terus ke kanan menuju realistis konsep kapitalis. Ia berada pada garis kewajaran. Sebab Log, memulai segalanya dengan kecintaannya terhadap musik Rock. Meski, jauh sebelum itu, Log adalah seorang Disjoki (DJ).

Tapi Log, beberapa kali dalam sebuah percakapan, telah menurunkan volume distorsinya. Log lelah, entah karena industri yang sudah berubah, atau perjalanannya itu segera ditutup demi sebuah pengabadian nama besar yang dikehendaki selekasnya, atau seperti yang terlintas dalam sebuah perilaku bisnis bahwa Log tak menghendaki kapitalis yang liberalis.

Log, pria kelahiran Surabaya itu, memilih untuk menyerahkan tanggung jawab sebagai promotor Rock yang dulu dibangun dan diembannya, kepada generasi muda. Log Zhelebour semakin terlihat sepi, sebab hari ini, "sulit" kita dengar distorsi dari sebuah mesin Industri.

 

 



Loading...




[Ikuti Terus Kawula.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar