Lelaki Menang Karena Bisa Memilih, Perempuan Menang Karena Bisa Menolak

Lelaki Menang Karena Bisa Memilih, Perempuan Menang Karena Bisa Menolak

Adagium (yang konon dari) Jawa ini benar adanya, tetapi berbahaya: “Lelaki menang karena bisa memilih, perempuan menang karena bisa menolak.” Sebab, dari waktu ke waktu, sejak istilah terbawa (atau kebawa?) perasaan alias baper, mendadak viral di mana-mana, adagium itu, mau tak mau, memang harus menjadi rujukan dari terciptanya “situasi-dengan-perasaan-berkecamuk” tersebut. Untuk menelaah itu, kita punya dua hal di sini.

Pertama, soal lelaki yang menang karena bisa memilih. Memang, sepintas lewat, kalimat itu benar adanya. Namun, di sisi lain, jika dirunut lagi, faktor budaya atau kebiasaan masyarakat sangat memengaruhi kalimat “bijak” tersebut. Benarkah lelaki selalu memilih? Begitu kira-kira pertanyaan selanjutnya –saat kita juga mulai sadar jika bumi memang tak datar, rupanya.

Sebab, tanpa perlu jauh-jauh menukil contoh dari negeri lain, di kampung sendiri saja kita sering mendapati kenyataan bahwa lelaki tak selamanya bisa memilih. Sekali lagi, itu tentang pria dewasa – bukan urusan sekolah atau hal-hal yang dipilihkan orangtua dan yang lain bagi seorang anak. Namun, nahas, jodoh kadang juga masuk ke dalam pilihan itu.

Mungkin akan ada yang interupsi: “Ini zaman baru, tak ada lagi yang namanya perjodohan!” Ya, itu benar, tetapi titik beratnya bukan karena keinginan orangtua, melainkan yang kerap terjadi di masa pacaran.

Yang dimaksud dengan lelaki bisa memilih tadi tentu juga bukan urusan harmonisasi bahasa dan makna belaka. Artinya, kalimat kontradiktif dan memiliki perbandingan itu dibuat tak hanya untuk menyenangkan penutur dan pendengarnya saja. Pasalnya, ada kebenaran yang terkandung di dalamnya, meski, untuk saat ini, agak kurang relevan.

Kita bisa lihat hal itu dalam fase awal pendekatan – sumber dari segala (ke)baper(an) tadi. Di tahap itu, tak banyak lelaki yang bisa memilih karena perempuan selalu menentukan. Sekali lagi, perempuan selalu menentukan.

Tanpa perlu banyak contoh, kita sebaiknya lekas mengerti: di fase pendekatan, tawar-menawar adalah keharusan, tetapi memberikan kesan yang baik menjadi keharusan yang lain lagi. Ketika mengajak makan, misalnya, lelaki akan menjadi makhluk yang serba-berkecukupan dan perempuan sebaliknya (karena mereka pintar berahasia soal keuangan).

Lalu, petaka tiba ketika pernyataan “perempuan menang karena bisa menolak”, menjadi faktor kunci. Sigmund Freud, ahli jiwa yang merintis aliran psikoanalisis, menggambar kejadian selanjutnya dengan sebaris kalimat: “Adalah alami bila saat jatuh cinta kita selalu mengidealkan orang yang dicintai.” Bisa ditebak, yang terjadi berikutnya ialah berbahagia (bila berjadi) atau bersedih (jika tak kesampaian atau digantung).

Di mana posisi “baper” dalam kisah itu? Di awal, tengah, dan ujung kisah, tentu saja. Sebab, dengan tingkat kecemasan yang tinggi, suatu pendekatan (ke tahap pacaran) akan dirajut oleh sepasang manusia beda jenis kelamin dengan sangat tergesa: tak ada waktu lebih untuk meladeni hasrat dalam diri orang-orang yang sedang dimabuk asmara. Mungkin, karena itu pula tiap pasangan di dunia merindukan fase pendekatan tadi kembali terjadi di hidup mereka.

Baper itu sendiri bermula dari keyakinan yang besar, tetapi teradang oleh pengamatan yang rapuh. Bukan dalam arti harfiah, pengamatan yang penting di situ, tentu, soal batin: tiap lelaki melihat wanita –juga sebaliknya- tak hanya dengan “hati”, tetapi juga dengan nalar. Mungkin benar juga bahwa perasaan cinta yang menggebu bisa mematikan nalar seseorang sehingga Sujiwo Tejo, budayawan eksentrik itu, melontarkan kalimat ini: “Pekerjaan yang paling sia-sia di muka bumi adalah menasihati orang yang sedang jatuh cinta.”

Lucu, memang, membayangkan bahwa baper dan hal-hal yang terjadi setelahnya karena kecintaan buta –dan karena itu nasihat menjadi tak perlu- selalu ada hingga kata berikutnya menutup itu semua: galau. Kalau sudah begitu, kita mungkin harus percaya kepada kata-kata Freud yang lain lagi, “Cinta sama sekali tidak memiliki arti, kecuali di atas ranjang.”

Kecuali setelah menikah, barangkali, pandangan Freud di atas tentu tak ada artinya –dilihat dari sisi agama dan norma yang berlaku di masyarakat kita. Akan tetapi, yang perlu dicermati dari kalimat bernada “frustrasi” Freud ialah ketimbang baper, lebih baik tidak berhubungan sama sekali –“prinsip” klasik yang jarang sekali terlihat pada anak muda di zaman ini.

Atau, jangan-jangan, Freud salah karena, ternyata, baper sudah ada sebelum kata pertama terlontar, sebelum pisau dari pandangan itu membelah perasaan, sebelum suara yang mengge(n)tarkan dari calon pacar itu sampai di telinga, dan sebelum sebelum lainnya? Tidak juga, kiranya. Sebab, perasaan tidak akan pernah terbawa kalau akal (nalar) dilibatkan di dalamnya.

Cinta, pada akhirnya, juga soal mengindari perasaan itu sendiri karena baper pun hanya akan menguras (kedalaman) hati.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *