Lebaran dan Cermin

Lebaran dan Cermin

Oleh: Marhalim Zaini

Saya menatap diri saya 

tengah menatap diri saya sendiri...” (Jacques Lacan).

KETIKA Lacan bilang begitu, yang terbayang adalah cermin. Ada dua sosok yang saling bersitatap, di depan cermin. Kita mengira, sosok yang satu (di luar cermin) adalah ril, dan yang lain (di dalam cermin) tidak nyata. Tapi siapa menduga, bahwa keduanya boleh jadi adalah (perumpamaan) diri kita yang terbelah, diri yang ambigu.

Dan ketika “dua diri” itu saling menatap, kita kerap merasa asing. Kerap kita harus mengenal kembali lekuk wajah dan tubuh. Terus begitu. Dan hasilnya, senantiasa tak juga kita betul-betul “mengenal” diri kita itu, secara penuh, total. Sebab rupanya, tiap saat, waktu bergerak dan tumbuh dalam diri kita, sebagai kejadian-kejadian baru.

Maka begitu Lebaran datang, misalnya, dan puasa beringsut pergi, kita seolah diminta untuk memeriksa kembali diri kita. Menelisik apakah kerut kulit wajah kita sudah mudah berubah. Memeriksa kulit wajah, adalah juga memeriksa sesuatu yang lampau, sesuatu yang berangkat menuju lampau, dan sesuatu yang kini terjadi. Lalu, masa depan menjadi seperti sesuatu yang jauh, tak tergapai.

Tapi manusia, selalu membangun harapan-harapan, dalam pikiran dan perasaannya. Meskipun, sesekali menyelinap rasa ragu, gamang (tentang masa depan). “Di belakang pikiran-pikiran dan perasan-perasaan Anda, Saudaraku,” kata Nietzshe dalam Thus Spoke Zarathustra (1883), “berdiri seorang jenderal yang gagah perkasa, seorang bijak yang tak dikenal—ia dipanggil Diri. Ia hidup dalam tubuhmu, ia adalah tubuhmu.”

Agaknya, “Diri” di situ—dalam frasa “ia adalah tubuhmu”—adalah penghapusan atas dikotomi-dikotomi, antara tubuh fisik dan jiwa, antara tubuh biologis dan tubuh sosial, antara yang superior dan inferior—dikotomi yang memang telah sejak lama jadi perdebatan panjang dalam sejarah pemikiran filsafat.

Tapi, kalimat “seorang bijak yang tak dikenal” di situ, apa maknanya? Lalu, “seorang jenderal yang gagah perkasa” apa pula maknanya? Dua kalimat ini, boleh jadi, adalah yang ambigu itu. Ia bijak, tapi tak kita kenali. Ia seorang jenderal yang gagah perkasa, tapi kita tidak mengenal wajahnya, selain tubuh yang kita bayangkan sebagai “perkasa.”

Dan, itulah “diri.” Antara yang lemah, dan egois. Antara yang bijak dan pikiran-pikiran picik kita. Diri, yang tak sepenuhnya kita pahami kehendaknya. Yang sebagai “tubuh biologis” ia komsumtif. Sebagai “tubuh sosial” pun ia kompleks. Tubuh biologis itu rupanya tak dapat selesai begitu saja, misalnya dengan memberinya pakaian sobek-sobek, mandi dengan sabun deterjen, pakai sandal terbalik, dan makan nasi dalam ember pecah. Sebab, ia akan berimbas pada “tubuh sosial”-nya.

Dan, itulah “diri” kita. Diri si “aku” yang tak gampang patuh, dan rumit. Selain ia memang rumit, kita sesungguhnya tak pernah secara sadar berniat mendikotominya, meletakkan yang satu berbeda dengan yang lain. Kita cenderung membiarkannya begitu, terbelah dan ambigu. Sebab kita diam-diam memang merasa nyaman juga, hidup dalam ketidakpastian, hidup dalam diri yang kadang sakit, kadang perkasa.

Apalagi, ketika diri kita yang hidup dalam masyarakat pos-industri ini, memang ditengarai telah mengidap skizofrenia: individu yang terpecah. Begitu ia terpecah, bahkan lebih dari satu, diri menjadi samar—yang dalam definisi Laing (1969), menyebut: “ia melihat dirinya sebagai aku dan bukan aku secara bersamaan.”

Selamat berhari raya, selamat bercermin…..[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *