Kritik Sebagai Produk Pengetahuan

Kritik Sebagai Produk Pengetahuan

Sebaik-baik kritik adalah yang dituliskan; atau ia hanya bualan.

Tapi budaya yang hidup dalam masyarakat kita adalah budaya lisan–bukan menulis, dan inilah barangkali yang membuat kritik seolah tak perlu lagi ditulis, tapi cukup dilisankan.

Hal tersulit dalam hidup adalah perihal yakin-meyakinkan dan, harusnya, kritik (yang konstruktif) mengambil peran di situ.

Sebaik-baik kritik adalah yang “menyangsikan”; bukan yang sekadar memotret, apatah lagi “menyaksikan”.

Loading...

Begitulah: kritik memang bukan kesaksian, tapi ia produk pengetahuan. Ada logika, kekhasan cara pandang/perspektif, analisis, juga tinjauan dan masukan di sana, yang keseluruhannya ini didasarkan pada “kesangsian”.

Kritik adalah sangsi; bukan sanksi.

Maka, jangan sekali-kali menghubungkan persoalan kritik dengan hukum (penghakiman); kritik berada dalam wilayah yang lain, yang tak tergapai oleh hukum: aturan-aturan memaksa yang didasarkan kesepakatan.

Tak ada kritik yang tak berdasar; atau itu hanya tuduhan yang salah menyasar. Maka, sebaik-baik kritik adalah yang dituliskan–jika seburuk-buruk bualan adalah kejujuran.

Tapi kritik adalah persoalan yang diapit kata “mungkin”. Artinya, sebuah kritik bisa ditulis jika memungkinkan: dicerna dan diterima.

Tak ada kritik yang tak berdasar; seperti halnya kejutan-kejutan besar dari hal-hal kecil yang coba disasar.

Ia yang melancarkan kritik adalah ia yang pintar; ia yang menulis kritik adalah ia yang cerdas; ia yang memberi masukan kecil untuk sebuah kritik tentang kritik adalah ia yang genius; ia yang terbiasa mengkritik dirinya sendiri adalah ia yang bertuhan; tapi, ia yang terlampau rajin menulis kritik adalah ia yang terlampau serius.

Mereka yang gila adalah mereka yang tak melancarkan kritik, apalagi menuliskannya; mereka yang bodoh ialah mereka yang tak menuliskan kritiknya tapi rajin membualkannya; mereka yang panik adalah mereka yang menulis kritik karena termakan bualannya; mereka yang aneh adalah mereka yang mengulang-ulang pandangannya menjadi sebuah kritik tanpa merasa perlu menuliskannya.

Terlepas dari itu semua, yang rajin mengkritik itu memang pintar. Tapi yang tak selalu mengkritik itu adalah sang genius yang dicari. Sebab ia selalu melihat permasalahan itu dari “dasar”–alih-alih berpikir tentang sesuatu yang, menurut orang-orang atau dapat membuatnya, terlihat “besar”.

Kritik yang baik adalah sebuah tulisan yang tak terpisah dari budaya lisan, agar ia bisa, dan mudah, didengar–namun tak mudah dilupakan. []

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *