Ketika Abu Bakar Menolak Perintah Nabi hingga Tiga Kali

Ketika Abu Bakar Menolak Perintah Nabi hingga Tiga Kali

Pernahkah terbesit pertanyaan dalam benak kita, apakah para sahabat Nabi selalu menaati perintah beliau? Tidak, rupanya ada kala mereka lebih memilih Adab.

Subuh itu, Abu Bakar Ash Shiddiq seperti telah diperintahkan sebelumnya maju mengimami kaum muslimin. Ketika shalat hendak dimulai, adalah Sayyidina ‘Abbas dan ‘Ali memapah sosok yang diringkihkan demam itu.

Maka tetiba sergapan kebahagiaan menyusup ke dada semua orang dan mencerah-cahayai wajah mereka. Inilah Rasulullah Saw. Inilah beliau kembali hadir di tengah-tengah mereka.

Menyadari junjungannya bergabung dalam barisan di shaff pertama meski sembari duduk, Abu Bakar memundurkan diri. Tapi Nabi mendorong kembali Abu Bakar untuk maju mengimami.

Mentaati dorongan Rasulullah Saw., Abu Bakar maju sejenak sejauh tolakan tangan Sang Nabi. Tapi setarik nafas kemudian Ash Shiddiq mundur lagi. Demikian berulang hingga tiga kali.

Akhirnya Abu Bakr berundur lalu duduk di sebelah kanan Sang Nabi Saw., kemudian diberinya isyarat agar semua yang hadir shalat turut duduk. Demikianlah mereka memahami, sebab Sang Nabi yang akan mengimami shalat dalam keadaan duduk, mereka pun shalat dengan cara duduk.

Selesailah shalat itu dan Nabi pun menanyainya. “Ya Aba Bakar”, sabda beliau sembari tersenyum meski wajah agungnya tampak pucat, “Telah kuperintahkan agar kau tetap menjadi imam, mengapa engkau mundur?”

“Ya Rasulallah”, jawab Abu Bakar sembari menunduk dengan bulir bening di matanya, “Lebih baik tanah di depanku terbelah lalu aku jatuh ke dalamnya, kemudian bumi menutup dan menghimpitku hingga binasa, daripada aku harus menjadi imam, sementara ada Baginda di belakangku.”

Andai dia tetap menjadi imam pun, Abu Bakar sama sekali tidak bersalah. Dia akan ternilai sebagai orang yang mentaati Rasulullah Saw., satu ketaatan yang sebenarnya tak dapat ditawar sebab ia gambaran ketaatan kepada Allah. Namun Ash Shiddiq memilih adab.

Maka adab, terkadang adalah wujud paling indah dari buah akhlaq yang manis, harum, dan lembut di pohon iman yang berakar kokoh dalam hati.

Dinukil dari tulisan Ustadz Salim A Fillah ‘Adab Abu Bakr’

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *