Kesha Ratuliu dan Pertanyaan-pertanyaan soal Moral(itas)


Loading...

kawula.id - Kesha Ratuliu menenggak alkohol pada usia ke-21 dan orang ribut.

Menyikapi itu, saya, juga Anda, barangkali akan bertanya: "Apakah moral(itas)?"

Pada usia ke-17, gadis dari sebuah daerah di pedalaman Jawa sana terpaksa menjadi pramusaji alias marka minuman di sebuah warung remang-remang di kota saya kini. Ia menangis, tetapi tidak ada yang peduli: gerungannya (mungkin) telah ditelan oleh gelombang kesedihan.

Menginjak usia ke-13 tahun, gadis kecil asal pedalaman Sumatra Utara terkatung-katung menjalani kehidupan di kota Anda. Karung di punggung, ia panggul sendirian. Orangtua sudah lama mati dan pendidikan sudah lama gadis kecil itu tinggalkan. Lantas, bagi Anda, apakah moral(itas)?

Pada usia ke-18, seorang pemuda kurang sekolah menjadi pemuas nafsu istri seorang hartawan. Ia mendapat segalanya: ponsel, sepeda motor, baju, dan semua itu barang baru. Ia bergidik saat mengatakan, "Dosa saya banyak." Apakah itu bagian dari moral(itas)?

Pertanyaan itu perlu kita tambahkan: "Apakah, selain fakir miskin dan anak telantar, moralitas juga dipelihara oleh negara?"

Kita jawab sendiri: ketiganya bahkan tidak dianggap sama sekali: anak jalanan tetap diperlakukan sebagai bukan-saudara, fakir miskin disantuni tiap bulan, tapi tidak diberi pelatihan keterampilan, dan moral(itas) tak ada, atau belum bernama di negeri ini—meski orang-orang di sini (mengaku) punya agama.

Lantas, kenapa pula dari layar ponsel pintar, seminar motivasi, sampai pertemuan pejabat dalam rangka memininalisasi kemiskinan yang digelar di sebuah hotel mewah, orang dengan gampang mendakwa bahwa moral(itas) tak ada lagi?

(Kenapa sopan santun sekarang terdengar remeh dan tak perlu?)

"Bangsat-bangsat bertopeng anak bangsa," sembur Ahmad Band lewat lagu mereka, "Interupsi", pada 1998 lalu, "rajai hukum rimba." Dari situ kita lihat kenyataan ini: tiap hari kita disorongkan dagelan, tiap hari kita mendulang sampah: orang miskin berbaris sepanjang sejarah dan kita sedih untuk 15 menit saja—di tempat yang menyediakan jaringan internet di ponsel kita, dan kita masih sibuk bertanya, "Moral(itas) itu apa?"

Kalaupun ada, penyebab hilangnya moral(itas) itu, barangkali lantaran kita tinggi hati: masyarakat kita adalah sekuler lapis-bawah (dalam jumlah lumayan) yang diperintah oleh sekuler lapis-atas alias negara. Dengan kata lain, negara-lah yang menghegemoni pikiran masyarakat lewat alat, juga dalam praktik, berwujud agama, kebudayaan, mitos-mitos (dapat berupa integrasi atau menghindarkan perpecahan dengan mengorbankan eksistensi minoritas, dan semacamnya).

Pandangan itu saya temukan dalam tulisan berkepala "Hegemoni Pengetahuan dan Ketakutan Pada Yang Liyan". Tayang di situs Indoprogress, tulisan itu lahir dari tangan Ben. K. C. Laksana dan Rara Sekar Larasati, yang di sini dikenal dengan proyek Banda Neira bersama Ananda Badudu. Nyaris mengutip banyak dari teori hegemoni Antonio Gramsci (Marxist dari Italia) dalam tulisan itu, mereka (dengan ringkas) mendedahkan peran dan kontrol negara soal Komunisme melalui film "Pengkhianatan G30S/PKI". Saya tak akan membahas itu lagi di sini karena Anda dapat membacanya secara gamblang melalui literatur lain, semisal buku (Almarhum) Wijaya Herlambang bertajuk "Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film". Namun, dua pertanyaan mendesak yang tersisa dari sengkarut persoalan itu adalah "Moral(itas) apa yang dipertontonkan dengan mengendapnya pengungkapan kasus pembunuhan terhadap simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun-tahun berdarah itu dan di mana peran negara dalam persoalan tersebut?"

Hei, bagaimana mungkin kita bicara moral(itas), yang di sini bisa berarti ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya (Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI] V), sementara negara ini selalu abai akan hal itu: impunitas dalam kasus Hak Asasi Manusia, korupsi merajalela dan koruptor masih sanggup melambaikan tangan sembari tersenyum di televisi, dan pendidikan seksual dilimpahkan sepenuhnya kepada keluarga, sementara negara, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, belum memasukkannya ke dalam kurikulum hingga saat ini? Bagaimana bisa kita bisa bicara soal moral(itas) dari seseorang yang menenggak alkohol, sedangkan sogokan untuk para elite politik di sini masih berkisar pada jada perempuan-perempuan penghibur selain dolar segepok?

*

Pada usia ke-5, seorang anak meniup kue ulang tahunnya. Ia berdoa, kedengaran khusyuk, tapi dengan tangan terikat: "Tuhan Yang Maha Baik, aku mau teman-teman yang baik dan hadiah yang banyak."

Ia mendapatkan hadiah, tapi teman tidak: gembel yang meneteskan liur di hadapannya.

Orang tua si anak akan kembali ke kehidupan semula dan ulang tahun memang cuma perayaan sehari. Bocah tak kenal jalan terjal dan di rumah selalu bersandal itu besok akan bersekolah. Ia beroleh bekal dan uang saku. Di luar pagar, para gembel memandang sekolah si bocah dengan lesu.

16 tahun kemudian, orang-orang akan mendakwanya: "Kamu tak bermoral. Kamu tak menunjukkan contoh yang baik bagi anak seusiamu." Gadis itu baru saja menenggak alkohol dan ia terpojok.

Gadis itu mungkin tidak tumbuh sebagai Kesha, tapi ia melampaui itu: ia adalah kita semua.***



Loading...




[Ikuti Terus Kawula.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar