Kawula Muda di Antara Kecemasan-kecemasan yang Tak Berdasar

Kawula Muda di Antara Kecemasan-kecemasan yang Tak Berdasar

Kian mudah informasi diakses, yang didapat mungkin bukan lagi pengetahuan, melainkan kenyataan-kenyataan “yang tak bisa dijadikan pegangan”.

Kawula muda zaman sekarang adalah buktinya. Ketidaktahuan telah membuat mereka jadi entitas yang kerap tak punya pilihan dalam hidup. Alih-alih mempelajari hal baru, mendengarnya saja sudah membuat mereka mual dan ingin lekas berlalu.

Hal itu mungkin terjadi karena kian hari mereka makin pragmatis dan oleh karena itu jadi riskan. Mereka benci pada kiprah kawan-kawan sekampus yang bersorak di jalanan dan mendapat cap “aktivis mahasiswa”. Mereka sebal mendengar segala sesuatu yang diidentikkan sebagai “bagian dari perjuangan”.

Tapi kebencian itu juga wajar —dalam kondisi yang dimungkinkan- mengingat kiprah para “aktivis mahasiswa” zaman ini yang serba-tak-jelas dan penuh ambivalensi.

Alasannya sederhana: para “aktivis mahasiswa” zaman ini kadang tak lahir dengan semangat yang “padat”. Acap kali juga ditemukan: sebutan “aktivis mahasiswa” itu dibaptis sendiri. Meski kadang tak perlu lembaga untuk mengukuhkan gelar “prestisius” tersebut, tapi sebutan aktivis tentu terlalu mudah disematkan kepada mereka yang terlalu banyak bicara dan terkesan hanya gagah-gagahan belaka.

Nahas, mereka juga kerap buta-sejarah.

Hanya saja, mereka masih punya tokoh-sejarah yang bisa dijadikan panutan. Itulah yang tak dimiliki mahasiswa di luar label “aktivis”. Terampil mengutip sepatah-dua kata-kata penulis pop terkenal atau hadis-hadis nabi yang disebarkan akun-akun media sosial di linimasa itu telah membuat mereka jadi makhluk yang gampang berpuas diri; yang kehilangan wacananya sendiri. Bagi mereka, keteraturan hidup adalah berada di jalur yang “benar”. Sejak saat itu, mereka jadi orang-orang yang tak berani menantang bahaya, konon lagi menentangnya.

Pangkal-bala dari hal tersebut barangkali kampus itu sendiri, selain lingkungan keseharian. Anak-anak muda tak diajarkan untuk berani mengarungi “hal-hal lain” di luar proses, namun lebih diarahkan untuk berada di jalur “yang telah dipilihkan” itu selamanya. Mereka jadi paranoia akan sesuatu yang tak pernah mereka sentuh; mereka curiga kepada hal-hal yang tak pernah didengar dan dipelajari dahulunya.

Akhirnya, mereka terpaksa menyelesaikan studi dalam perasaan yang gundah. Dengan raut penuh bersalah, mereka tiba-tiba berucap: “Ini semua demi orangtua”. Mereka takut terlalu lama jadi mahasiswa, tapi di sisi lain juga tak tahu harus mengerjakan apa dan bagaimana ke depannya.

Lambat-laun mereka mulai hidup dengan menanggung rasa bersalah. “Mengapa dulu aku tak seperti si Anu, yang saban hari berjualan di pasar demi membiayai uang kuliahnya?” tanya mereka suatu hari. “Kenapa dulu aku malu dan tak seperti si Fulan yang tak sungkan berdagang pulsa di kampus demi mencari uang masuk meski untuk sekadar jajan?” tanya yang lain. Maka, ketika si Anu dan si Fulan telah jadi “orang”, mereka cuma bisa runduk dan tak tahu harus berbuat apa lagi.

Naif memang, tapi mereka bahkan terlalu sungkan untuk sekadar berbasa-basi.

Hatta, suara para “motivator jelang musim yudisium dan wisuda” yang banyak ditemui di antara kawan-kawan angkatan itu pun sayup-sayup tak terdengar lagi. Nama mereka tertelan oleh lusinan map yang tergeletak di meja seorang manajer personalia; serak bau parfum mereka kadang-kadang terhidu di beberapa perkantoran bonafide dan ternama. Tapi ketika satu per satu meja diperiksa, tenyata mereka tak ada di sana. Ingatan tentang mereka pun berlalu seperti bau tubuh yang terserap AC dan bunyi hempasan pintu.

Pilihan-pilihan yang disediakan hidup ternyata tak sesuai dengan ekspektasi mereka soal kehidupan itu sendiri. Senarai produk-produk terkenal dengan nama yang (meminjam istilah dalam sebuah sajak Ahda Imran) “terapung-apung dalam bahasa Inggris” telah membuat mereka berhenti berpikir jernih. Eksklusivisme mereka adalah modernitas –tanpa sadar jika mereka pun kini telah jadi komoditas. Mereka takut jadi “biasa”.

Kawula muda zaman sekarang, agaknya, kian terperangkap dalam jerat xenofobia.

Kegundahan itu mungkin tak bertahan lama, meski kadang-kadang juga “menahun”. Hanya saja, informasi demi informasi yang dulu mereka serap ternyata juga tak berdaya menyelamatkan mereka, sementara sedikit” pengetahuan yang bisa mereka akses dahulunya itu kiranya mampu memberi mereka nilai (hidup) yang sesungguhnya –lebih dari nilai-nilai yang tercetak di ijazah mereka.

Mungkin saja, intelektualisasi itu masih ada di sekitar mahasiswa. Hanya saja, keserbalekasan dunia di masa ini barangkali telah merenggutnya dan di titik ini, kata-kata Tan Malaka soal idealisme di kalangan anak muda itu kian terasa benar dan menampakkan wujudnya.

Agaknya, kita memang hidup di zaman yang terbiasa memberdayakan kecemasan demi kecemasan, meski tak berdasar.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *