Jatuh Cinta Itu Tanpa Alasan

Jatuh Cinta Itu Tanpa Alasan

“Jatuh cinta itu,” kata Efek Rumah Kaca, “biasa saja”.

Bertahun-tahun yang lalu saya mendengar lagu ini; tapi lupa di mana. Single, yang konon perdana, dari Cholil Mahmud dkk ini membuat saya yang tengah remaja itu, bergolak, juga bergejolak: “Seberapa ‘biasa’kah jatuh cinta itu hingga ‘orang-orang sialan’ seperti mereka sampai menulis lagu ‘sialan’ ini?” batin saya.

Hari-hari kemudian berlalu, tahun-tahun berlepasan, dan perubahan, kata orang, bisa datang dari apa saja. Jatuh cinta itu, dalam konteks ini, bisa dikata sebagai contohnya.

Tapi Sujiwo Tejo, seorang dalang terkenal dengan gagasannya yang ‘sialan’ itu, pernah pula berkata: “Jatuh cinta itu tanpa alasan”. Di situlah baru saya mengerti: jatuh cinta memang biasa saja; sebab cinta itu sendiri sudah terlalu luar biasa. Terutama dampaknya.

Orang-orang akan melakukan apa saja di luar kebiasaanya ketika sedang jatuh cinta: nalar mereka seolah tak bekerja, dan perasaan yang bernama cinta itu bergerak jadi “yang diutamakan”. Di sini, akal seolah dimatikan oleh ketiadaan ruang dan masa untuk berpikir: cinta telah menguasai keduanya.

“Jatuh cinta itu,” kata Efek Rumah Kaca, “biasa saja”.

Lantas saya mengerti satu hal: cinta itu “tak formal”, rupanya, meski “tak normal” juga, agaknya. Kita dipaksa (atau terpaksa?) menembus batas-batas kewajaran sebagai makhluk. Tapi orang bijak lain juga berkata bahwa cinta itu misteri: kita berada dalam cerita yang menjanjikan banyak rahasia; kita bergerak dalam ruang dan masa “yang asing” untuk sesuatu yang juga asing pada akhirnya.

“Jatuh cinta itu,” kata Efek Rumah Kaca, “biasa saja”.

Barangkali ini soal laku semata: bagaimana tindakan, terlebih setelah cinta itu dinyatakan (atau diungkapkan), tak membuat kita gelap mata hingga bertindak di luar batas kewajaran dan norma.

“Jatuh cinta itu,” kata Sujiwo Tedjo, “tanpa alasan”.

Tapi segala laku, meski tanpa alasan, tentu punya akibat. Dan, jatuh cinta yang biasa saja, seperti kata Efek Rumah Kaca tadi, bisa jadi dapat menghindarkan kita dari anomali: menjadikan hati sebagai “lembaga”, hingga kita tak rela terluka dan marah ketika tak dilayani. Di sini, cinta itu memang “tak normal”, rupanya, tapi juga tak “formal”, agaknya.

Sebab bagaimana mungkin cinta, yang katanya “menyatukan” dua insan itu, dapat melukai sesuatu yang pada mulanya “tak ada”?

“Jatuh cinta itu,” kata Efek Rumah Kaca, “biasa saja”.

Maka mulailah “membiasakan” diri, agar kita “terbiasa”, hingga segala sesuatunya (dalam laku bernama cinta itu) jadi hal yang juga biasa. Sebab cinta itu sendiri, sudah teramat luar biasa. Terutama dampaknya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *