Ingatan Begitu Singkat dan Episode Kesedihan Alangkah Panjang

Ingatan Begitu Singkat dan Episode Kesedihan Alangkah Panjang

Tiga hari saya berpikir tentang kisah di bawah ini:

“Kami mencuci sayuran dan mulai basah dalam kolam–sebuah parit, bentuknya–yang berada tepat di samping pagar pembatas antara sehampar padang (penuh lampu-lampu pemandu, dan sebagai isyarat bagi, pendaratan pesawat) dengan satu cabang jalan. Kami kemudian bangkit dari air cokelat yang terkacau itu, tak lama kemudian, bergegas buat pulang, tapi tiba-tiba perkelahian mulai menghebat di jalan, dan sebelum itu …”

Saya selalu lupa bagian rumpang tersebut dan, meski tiga hari otak diperas buat memikirkan itu, tetap saja potongan peristiwa dimaksud urung ditemukan. Peristiwa itu berkelabatan dalam kepala setelah saya iseng melewati kolam pencucian sayur itu, suatu sore. Kolam itu, sebagaimana beberapa kisah haru-menyentuh dari masa lalu, adalah sumber penemuan jati diri bagi saya dan kawan-kawan.

Namun, kini saya mencoba menampik ingatan itu, tapi bukan karena lupa lagi, melainkan, saya kira, sudah terlalu sulit bagi otak buat mengingatnya–saya kini melupakan itu semua. Pasalnya, kesan yang dalam justru pada perkelahian yang hadir saat kami, saya dan kawan-kawan di situ, bersiap untuk pulang dari kolam itu. Saya bahkan lupa pada tahun berapa kejadian itu berlangsung … dan masih tetap lupa apa yang terjadi.

Sepenting itukah sebuah momen? Mencapai usia perak manusia lebih setahun ini, rasa cemas menodongkan pertanyaannya kepada saya: benarkah ingatan begitu singkat?

Alquran punya jawaban soal itu: manusia adalah Al Insan. Konon, saya turut mendengar ini di sebuah kurun, kata itu bermakna bahwa manusia adalah si pelupa. Manusia, dengan kata lain, adalah makhluk yang tak punya ingatan mutlak akan semua hal yang ia lalui. Kita pun tahu soal itu, tetapi sering berpura-pura melupakannya.

Lupa, yang berarti “lepas dari ingatan” itu, pada akhirnya (zahir atau tidak) membuat manusia jadi makhluk yang unik: mereka lupa akan kesalahan sendiri, tetapi begitu vokal menyorakkan kekeliruan orang lain; mereka tak punya ingatan baik soal peristiwa yang diajarkan kepada kanak-kanak di sekolah, tetapi justru memberi pedoman buat memahami itu. Mereka kemudian sering cemas dan kegalauan itu mendamparkan ke sebuah batas: antara yang hilang dari hari ini dan kemarin, apa perbedaannya?

“Cinta begitu singkat dan lupa begitu lama …”

Petikan puisi itu, yang dinukil dari sajak sastrawan besar Chile, Pablo Neruda bertajuk “Poem #20” atau XX (terjemahan Saut Situmorang), mungkin mengandung konteks: keajaiban dari sebuah momen, justru hadir saat kita lupa, persis ketika menaruh kacamata dan menggapai-gapai untuk menemukanannya. Memarodikan kutipan terkenal Descartes, filsuf kenamaan Perancis, dosen Filsafat Reza A.A Wattimena dengan getir menyebut orang modern sebaiknya punya moto “oblivisco ergo sum”: aku lupa maka aku ada. Reza pun mengutip Martin Heidegger, “Kelupaan akan ada” (Seinsvergessenheit), sebagai pokok dari fenomena lupa yang menjangkiti kita hari ini: terus bekerja, belajar, hingga bercinta, tetapi lupa menyadari kegunaan itu semua. Lupa, atau cinta, barangkali memang sesingkat itu karena kita terjangkit …

Heidegger, filsuf Jerman di awal abad 20 itu, pun tak sepenuhnya salah: tak semua orang “lempeng” begitu, memang, sebab kesadaran kadang bertaut dengan apriori–berpraanggapan sebelum mengetahui. Pada abad lalu orang mungkin agak gamang mendengar suara Heidegger tadi, tetapi kini berjejalan fakta itu mendatangi kita: anak-anak diminta oleh orang tuanya untuk bekerja di kantor pemerintah, dan mereka memenuhi “tugas suci itu, lalu, di sebuah titik, mulai lupa akan tugas pokok dan fungsi di sana: pelayan masyarakat. Mereka pun sering abai akan hal itu sehingga kita–yang duduk agak jauh dari meja kayu dan loket kaca–, bahkan hingga kini, geram. Dalam gemeretak gigi, yang ditahan-tahan, pelbagai umpatan bersilang dalam pikiran kita dibarengi oleh pertanyaan mendakwa: mengapa birokrasi selalu ribet dan, tak seperti cita-cita para ekonom, sulit buat efektif dan efisien?

Terus berjalan dan memapasi gerbong-gerbong lain dari kehidupan, kita menyaksikan: aturan-aturan, entah dari mana datangnya, membebat kita dan seolah-olah hendak menegaskan dengan suara parau, “Bertahanlah karena kami berangsur-angsur melukai engkau.” Kita kemudian mencoba mengingat sejarah karena hal itu, tetapi hanya menemukan lembar kosong dan gelap; kita malu menengok catatan sendiri dan terlalu takut buat keluar dari semacam perangkap. Sampai di situ, Reza pun, dalam risalahnya–berjudul “Lupa”–mencatat: ” … Kita lupa, bagaimana untuk hidup sederhana dan bermakna.”

Akar dari lupa, tulis Reza lagi, adalah ketidaktahuan. Mungkin ia separuh benar: ketidaktahuan begitu gelap dan kita (ter)sesat di dalamnya. Namun, jika pun ia benar seutuhnya, kenapa kesedihan alangkah panjang?

Seseorang menangis, tengah malam, dan air matanya lepas menjangkau genangan kotor yang kemudian memantulkan wajahnya. Kita sering seperti itu. Mungkin karena kita merasa kesedihan punya babak, episode, yang membuat, sementara waktu, keadaan hening? Kalaupun demikian, mengapa kesedihan sering datang karena ingatan buruk–tentang cinta, misalnya,–dan kita sulit melupakannya?

Episode kesedihan memang panjang, agaknya: kita tiba-tiba sering didera oleh kegelisahan-kegelisahan tak menentu, entah karena karier yang mandek, sekolah yang justru memenjarakan kebebasan, dan lain-lain. Terbayang itu, saya pun mencoba lagi mengingat kisah yang tiga hari belakangan selalu gagal saya temukan unsur pentingnya:

“Kami mencuci sayuran dan mulai basah dalam kolam–sebuah parit, bentuknya–yang berada tepat di samping pagar pembatas antara sehampar padang (penuh lampu-lampu pemandu, dan sebagai isyarat bagi, pendaratan pesawat) dengan satu cabang jalan. Kami kemudian bangkit dari air cokelat yang terkacau itu, tak lama kemudian, bergegas buat pulang, tapi tiba-tiba perkelahian mulai menghebat di jalan, dan sebelum itu …”

Sebelum itu ada lupa: sesuatu yang tak penting, pada mulanya, tetapi ia mengingatkan kembali bahwa kita memang manusia, pada akhirnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *