IKAPI: 500 Ribu Pengangguran Serbu Jakarta Pasca Lebaran

IKAPI: 500 Ribu Pengangguran Serbu Jakarta Pasca Lebaran

Saban tahun Jakarta selalu dibanjiri pendatang baru usai lebaran. Hal serupa diprediksi terjadi usai Idul Fitri 1440 Hijriah kali ini.

Labor Institut Indonesia atau Institut Kebijakan Alternatif Perburuhan Indonesia (IKAPI) memprediksi fenomena tersebut. Jakarta bakal diserbu pendatang baru yang akan mencari pekerjaan dan mengadu nasib.

Bahkan mereka menilai tahun ini akan semakin banyak, imbas dari kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan membuka pintu selebar-lebarnya bagi pendatang baru masuk ke Jakarta.

“Prediksi kami, lebih kurang 500 ribu pendatang baru berbondong-bondong masuk ke Jakarta dengan mengikuti sanak saudaranya ketika arus balik hari raya lebaran tersebut,” kata Andy William Sinaga, Sekretaris Eksekutif Labor Institute Indonesia.

Menurut Andy, prediksi pendatang baru tersebut dari beberapa kawasan industri di Jakarta, lebih kurang 1 juta pekerja formal yang mudik lebaran tahun ini. Dari jumlah tersebut sekitar 50 persen akan membawa sanak saudara atau teman-temannya di kampung ke Jakarta.

Labor Institute berpendapat ada empat alasan para pendatang baru tersebut masuk ke Jakarta. Pertama, kebijakan Gubernur Anis membuka pintu bagi pendatang baru masuk ke Jakarta. Kedua, banyaknya pembukaan lahan baru seperti pembangunan perumahan dan apartemen di Jakarta yang semakin masif.

“Pabrik-pabrik kawasan industri di Jakarta akan merekrut pekerja kontrak baru dan Jarak tempuh dari berbagai kota di Jawa ke Jakarta yang sudah semakin singkat karena akses toll trans jawa,” jelas Andy dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Jumat (7/6/2019).

Akan tetapi para pendatang baru tersebut akan menimbulkan ancaman baru bagi Jakarta yaitu meningkatnya tingkat pengangguran. Pasalnya para pendatang baru tersebut masuk ke Jakarta tanpa dibekali dengan ketrampilan dan keahlihan yang cukup untuk mencari pekerjaan yang sesuai.

Meningkatnya angka pengangguran di Jakarta akan menimbulkan masalah sosial dan kerawanan sosial. Masalah sosial adalah tidak mempunyai tempat tinggal, sehingga pemukiman illegal seperti membuat bedeng/tempat tinggal, semakin menjamurnya pedagang kaki lima, pekerja informal (petugas parkir gadungan), dan kerawanan sosial seperti peningkatan kriminalitas dan tawuran.

“Sangat memalukan, Jakarta sebagai ibukota negara, apabila masalah sosial dan kerawanan sosial tersebut tidak dapat diantisipasi. Oleh karena itu Labor Institute Indonesia mengusulkan kepada Gubernur DKI Jakarta untuk dapat melakukan operasi yustisia untuk mendata para pendatang baru tersebut,” lanjutnya.

Paling tidak, kata Andy, Pemprov DKI Jakarta harus mengecek surat pengantar atau surat pindah dari daerah asal. Sehingga lebih mudah dalam pendataan dan bila perlu segera dapat dilatih dan disalurkan ke tempat kerja yang tersedia sebagaimana janji Gubernur Anis.

“Dengan demikian, para pendatang tersebut tidak menimbulkan masalah baru bagi ibukota ini,” pungkasnya.

Sumber: pojoksatu.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *