Ibu-ibu Kita di Jalanan

Ibu-ibu Kita di Jalanan
Loading...

Beredar di jalanan, sekali waktu, kendaraan saya disetop oleh seorang ibu bersama satu anak yang menenteng karung berisi barang rongsokan: besi bekas, pecahan peralatan rumah tangga berbahan plastik, kemasan air mineral, dan lain-lain. Semenit yang lalu, mata saya tertumbuk kepadanya; ia berdiri di tepi jalan. Ibu itu tampak terus melambaikan tangan kepada setiap pengendara yang lewat, dengan maksud hendak menumpang, tapi tak ada yang mengacuhkannya.

Kota panas dan angin bergerak lamban menjadi latar perjalanan kami. Ibu itu memegang jaket saya dengan erat saat ia sudah memantaskan tubuhnya di atas kendaraan roda dua ini. Seraya menaruh karungnya di bagian depan, saya merogoh maksud hatinya dengan pertanyaan, “Ibu mau ke mana? Saya antar ke mana pun ibu pergi.”

Ia diam dan terisak. Langit, rasanya, kian mendidih.

Sejurus kemudian, saya beroleh jawab: ia ingin, dan hanya ingin, ke sebuah simpang empat yang jaraknya lebih kurang empat kilometer ke depan sana.

“Di sana mungkin lebih banyak rongsokan dan gelas (kemasan) air mineralnya. Lebih banyak rezekinya. Amin,” kata si ibu.

Dada saya sesak; saya juga tak punya uang, seperti si ibu, tapi saya baru saja mengeluh: akan segera kehabisan bensin, gaji terlambat dibayar perusahaan, utang mulai menumpuk, yang kemudian menjelma senarai kutuk kepada kehidupan.

Saya mendengarkan kisah si ibu sepanjang perjalanan ini: ia punya empat orang anak dan seorang suami yang sedang terkapar karena dihajar oleh penyakit yang ia tak tahu namanya. Mungkin strok, tanya saya. Ia menjawab dengan menggelengkan kepala.

Ibu itu bilang, lima anggota keluarga itu dan dirinya sendiri mesti ia hidupi saban hari. Ia pun sudah setahun konversi: ia kini seorang muslimah. Namun, imbuh si ibu, seakan-akan tak ada yang peduli kepada seorang mualaf–dan miskin–seperti dirinya. Saat mengatakan itu, ia teringat anaknya yang duduk di boncengan depan bersama saya dan berbisik, “Anak itu seharusnya sudah TK (Taman Kanak-kanak) sekarang, tapi saya tak ada biaya.”

Tiga anaknya yang lain, lanjut ibu itu, sudah tak lagi bersekolah: ketiganya berusia 10 hingga 12 tahun. Ketiganya kini juga bekerja mencari barang rongsokan demi penghidupan keluarga mereka.

Menjelang sampai ke tujuan, persis saat ibu itu menyebutkan marga keluarganya, saya teringat seorang kawan yang masih sepersukuan dengan perempuan berhijab tersebut. Di pesan singkat itu kawan saya menulis, “Saya sedang tidak membantu sekarang.”

Saya tahu kawan itu sedang banyak keperluan.

Turun di tempat yang dituju, ibu tadi menggenggam tangan saya dan mengusap kepala saya saat saya mencium tangannya.

“Kalau anak berniat membantu, saya tinggal di Dusun X, tidak jauh dari tempat anak ketemu saya tadi,” ucapnya.

Bocah yang tadi saya bonceng itu melambai. Wajahnya tampak semringah karena di kantongnya kini terselip pecahan sepuluh ribu. Ia berterima kasih dengan tersenyum lebar seraya melepas kepergian saya sementara saya mesti meneruskan perjalanan hari itu dengan hati tersiksa dan bertanya,” Apakah saya berdosa, Tuhan?”

Beberapa hari kemudian, pada sebuah malam, masih dalam situasi berkendara, rombongan perempuan pencari rongsokan saya temukan sedang berada di jalan arah pulang ke rumah saya. Ada empat orang dalam iring-iringan itu dan dua di antaranya masih belia; mungkin anak si ibu, si kepala rombongan. Ketika sebuah motor menepi dan pengendaranya mendekat ke arah mereka, anak paling kecil di rombongan itu mendapat dua kotak makanan: nasi dan kue. Si ibu tampak membungkukkan badan dan menyalami si pengendara itu: seorang pria paruh baya. Anak kecil itu menyalami si pria dan ia juga berterima kasih.

“Apakah saya berdosa, Tuhan?”–pertanyaan itu menggedor telinga saya sampai hari ini tiap mendapati pemandangan serupa itu lagi.[]

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *