Hujan Anak-anak Api di Timur Tengah dan Sebuah Simbol Kebangkitan

Hujan Anak-anak Api di Timur Tengah dan  Sebuah Simbol Kebangkitan
Loading...

Suara bedug menjelma suara tembakan dan ledakan. Meski Ramadan dan perintah berpuasa di dalamnya – seturut seorang bijak ilmu tasawuf — adalah proses mengalahkan diri sendiri.

Tapi, negeri-negeri di belahan Timur Tengah di balik itu menangis, mereka memungut puing reruntuhan di dalam diri dan menyusunnya kembali demi jalan terang menuju fitri.

Damaskus, di Suriah, kota yang biasanya tafakur selama Ramadan, dalam artian tak pernah tidur sepanjang bulan diturunkannya Al-qur’an itu, menjelma reruntuhan beton sunyi.

Di sebelahnya, di Douma, di sudut-sudut reruntuhan, meja panjang beralas taplak merah menjadi oase di tengah keringnya nilai kemanusiaan. Meja bertaplak merah itu dikelilingi orang-orang yang hendak berbuka puasa.

Di atasnya terhampar kacang fava, buah zaitun, parsley, serta kebab, dan lainnya sebagai syari’at mengakhiri puasa dengan terdengarnya azan maghrib.

Tapi ia sunyi, keadaan itu tak se-kondusif yang ternarasikan. Sesekali bisa muncul serangan udara. Sesuatu yang berkecamuk, yang berasal dari perseteruan antara militan ISIS dengan rezim Bashar Al-assad.

Di Baghdad, Irak, di negeri di mana digubahnya kisah cinta Laila dan Majnun itu, mereka terkenang bocah-bocah yang membuat lentera dari botol toples kosong dan lilin, menagih ma’maoul (permen kurma) yang sudah disiapkan orang dewasa di tiap-tiap rumah. Tapi itu hanya menjadi potret rindu dari seorang Mohamed Al-azawi, yang barang pasti juga menjadi kerinduan warga Irak lainnya.

Tentang persiapan malam idul fitri serta eidiyah (bingkisan idul fitri) yang saban syawal menjadi bahan rebutan bocah-bocah lucu, serta hal lainnya yang sesaat menjelma hitam setelah Invansi Amerika Serikat. Bom mobil yang menjadi ledakan maut membuat Al-azawi menyimpan ulang rapat-rapat gerak kehidupan mereka demi mengulang suka-cita saat Ramadan.

Lain lagi Yaman dengan tradisi dekorasi yang artistik di tiap rumah saat Ramadan, alih-alih menikmati sajian berbuka puasa yang menggiurkan, mereka justru diserang wabah malnutrisi. Mereka berpuasa sepanjang hari hingga melewati waktu berbuka, mereka kelaparan, dan tubuhnuya digerus oleh kolera. Perang tak hanya urusan nyawa, tapi juga menghadirkan pembunuhan-pembunuhan tradisi kebaikan sepanjang Ramadan.

Beberapa kejadian di atas, tentunya punya benang merah historistik terhadap peristiwa-peristiwa lampau pada masa Rasulullah. Kita tahu, bahwa Perang Badar pun terjadi pada bulan Ramadan. Perang yang dimenangkan kaum Muslimin dengan pasukan yang hanya berjumlah 313 orang. Jumlah yang diyakini sama dengan beberapa riwayat hadits dengan jumlah pasukan Imam Mahdi saat nanti, di penghujung zaman, kembali membangkitkan nilai-nilai keislaman ke penjuru dunia.

Tapi Fathul Makkah menampilkan lanskap yang berbeda. Rasulullah, atau Muhammad Ibn Abdullah yang melalui perjanjian Hudaibiyah, merebut kembali kota Makkah tanpa pertumpahan darah. Peristiwa ini juga terjadi di bulan Ramadan. Tanah Haram, tanah yang dulunya menjadi tempat sang Nabi menerima celaan dari kaum kafir Quraisy sebelum Hijrah ke Madinah, kembali aman tanpa ancaman. Tak ada luka, tapi barangkali ada yang terkalahkan secara pikiran, yakni; Abu Sufyan.

Ada pesan yang sampai dari beragam peristiwa di atas. Mulai dari penganiayaan hingga sebuah kemenangan yang musykil terjadi; sebuah kebangkitan dari ratusan tumpukan penganiayaan.

Tetapi Ghaza, kejadian pada puasa pertama, tahun ini, beberapa hari yang lalu, kembali menoreh luka kita bersama. Seba, bayi 18 bulan menjadi korban dari konflik dengan akar skala mikro yang tak diketahuinya, bahkan kita. Tak juga diketahui Ibunya yang juga menjadi korban bersama nyawa di dalam rahim, yang kelak direncanakan Tuhan sebagai bakal adiknya Seba. Mereka meregang nyawa oleh api yang jatuh dari langit. Sebuah ledakan dari komando orang-orang Zionis.

Ghaza tak pernah nyenyak. Tidur orang-orang di Palestina tak pernah berhenti dikejutkan alarm dari yang berskala peringatan, sampai kepada penganiayaan. Alih-alih tertidur, Ghaza tak pernah kenal itu dengkur. Sekali lagi, perbatasan itu menjadi garis api yang kerap memunculkan sengat dalam sesaat.

Semenjak 1917, Palestina semakin tersudut. Setelah direbut Inggris, yang sesudahnya berujung pada campur tangan Amerika Serikat dalam upaya mejadikan Israel sebagai penguasa sah dari wilayah tersebut. Negeri yang dulunya makmur dengan damai di bawah pemerintahan Raja Sulaiman, atau yang kita kenal sebagai Nabi Sulaiman, pada akhirnya terbelah melalui peristiwa-peristiwa konflik setelahnya.

Tapi Palestina, seperti yang telah dijanjikan dalam kitab suci tentang nasib mereka di masa depan, yang berabad-saban hari dihantui anak-anak api berbahaya itu, tak pernah diam. Upaya untuk tidak terus diinjak selalu digaungkan, dalam bentuk simbol, dalam bentuk perlawanan. Bahwa damai, seturut dawuh Cak Nun, tak melulu menerima terus berada di bawah untuk diinjak, tapi menciptakan sebuah perlawanan dalam upaya melahirkan keseimbangan pada nilai-nilai kemanusiaan. Palestina tak menghendaki kemenangan, mereka hanya ingin keadilan ditegakkan.

Teriakan akan keadilan itu terus bergaung di langit Ramadan tahun ini. Ia sampai di telinga kita. Ia semacam membisikkan sebuah pesan kebangkitan. Bahwa Ramadan, tak hanya melulu memikirkan tipis-tebal saku jelang lebaran, tak hanya melulu memikirkan kemacetan jalan jelang mudik lebaran.

Ramadan, saban tahun dengan latar belakang kisah-kisah tragedi kemanusiaan di atas, hendaknya diresapi dengan nilai-nilai kebangkitan. Sebuah kebangkitan dari batin menuju lahir, melalui uluran tangan untuk mereka yang terancam ibadah berpuasanya dari ruang, waktu, dan dimensi apapun.

Kita terus menghendaki kemenangan tanpa pertumpahan darah. Tapi siapa bisa menandingi daya pikir seorang Rasulullah saat bersiasat di atas perjanjian Hudaibiyah dalam peristiwa Fathu Makkah. Tapi, bukankah Allah tak pernah menuntut kemenangan. Allah hanya melihat sebuah proses, sebuah perjuangan melawan kedzoliman.

Dari jauh, dari puing reruntuhan jalur Ghaza, sebelum masuk ke ruang paling sunyi dalam rangka menyedekahkan hati, pikiran, dan harta untuk Palestina. Tiap mendengar kisah ini, selalu, sayup-sayup terdengar dawai distorsi itu dipetik. Nada yang menjadi disonansi dalam pendengaran. Petikan yang berasal dari gitar seorang muallaf, yang selalu menyembunyikan ke-islamannya.

Ia, semenjak meyakini Qur’an sebagai penerang jalan hidupnya, adalah seorang yang terus menangisi Jerussalem. Barangkali, secara esensi, begitu harusnya kepedulian diekspresikan. 

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *