Hikayat Nikah Cepat

Hikayat Nikah Cepat

Bermaharkan uang Rp25.000, ditambah hidangan “ala kadarnya” bagi para tetamu, seorang pemuda bernama Rizki Ramadhan akhirnya resmi menikahi sang pujaan hati. Yang barusan itu bukan kalimat pembuka dari sebuah cerita pendek. Sebab, pernikahan yang menampar “harga diri” generasi millennial itu memang benar-benar terjadi di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Mungkin terdengar konyol untuk millennial yang gila pesta dan takut kehabisan kuota data, tetapi itu benar adanya. Rizki, yang kisahnya viral di dunia maya hingga menghiasi kanal berita, itu terhitung muda. Ia 25 tahun. Namun, tak ada penjabaran lain, juga soal usia sang mempelai wanitanya.

Meski begitu, apa yang ditunjukkan Rizki itu memang cukup untuk membuat generasi ini, dengan Rizki yang juga bagian darinya, mengerti bahwa kesakralan suatu “ikatan sehidup semati” tak ditentukan seberapa besar penyelenggaraan hajatan. Rizki mungkin tak menyadari dampak dari hal itu, tetapi seorang kawan saya yang mendengar kisah tersebut berujar dengan nada tercengang, “Nggak nyangka, hari gini masih ada aja yang nikahnya nggak ribet.”

Kita, terutama yang berasal dari generasi millennial, agaknya, punya satu kata soal pernikahan (apalagi bagi yang belum!): mahal. Ya, tak ada yang murah saat ini. Bukan semata soal harga barang atau komoditas, tentu saja, melainkan juga soal harga diri.

Mungkinkah bisa meniru Rizki dengan hidangan berupa teh dan pisang goreng “dadakan” di hari pernikahan nanti? Ah, selagi masih pesimistis soal jawaban paling bijak dari generasi yang “malang” itu, kita memang harus menjawab “Tidak!”. Kalaupun berani, itu barangkali hanya terjadi di kampung-kampung yang jauh dari akses TV kabel, gadgetkeluaran terbaru, jaringan providerbebas hambatan, kuota download melimpah, dan lain-lain. Singkatnya: udik.

Bisa jadi juga, jika kita “nekat” menaruh teh dan pisang goreng seperti nikahan Rizki, cemooh ini akan hadir: “Wah, seperti orang dulu saja!” atau “Nggak mampu, ya?!” Akan ada pula suara menimbang dan berkata, “Pernikahan perlu mikirin finansial, Tuan!”

Ya, dan karena itu kisah Sid Innes dan Georgina Porteous perlu dihadirkan di sini. Pasangan pecinta seni itu hanya butuh biaya Rp17.218 atau 1 poundsterling saja untuk mengikat janji suci mereka. Uniknya, gaun pernikahan mereka peroleh dari situs barang bekas. Dua sejoli asal Skotlandia tersebut juga tak ribet memikirkan hidangan untuk tamu yang hadir. Itu karena mereka mengambil tema ala piknik untuk hari bahagia tersebut. Hasilnya, tiap undangan mesti membawa bekal mereka masing-masing.

Ada banyak kisah lain, tentu saja, tetapi kisah berikutnya ini menjadi penting: pernikahan sederhana Fathia Azkia dan Herry Purwanto. Dengarlah katanya, “Tak ada yang membanggakan dari pesta yang mewah. Sehebat apa pun pestanya, pastinya akan ada saja orang yang mencela dan beri komentar. Jadi, mending sederhana sekalian, kan?” Voilà!

Alasan pasangan itu sesederhana pernikahan mereka: ingin punya rumah. Tentu, mengalihkan (mahalnya) biaya pernikahan di zaman ini ke salah satu pemenuhan kebutuhan primer alias rumah, tak dapat dimungkiri sebagai “trik” unik yang bisa diterapkan juga oleh siapa saja. Kita hanya butuh satu kunci soal itu: kesiapan.

Namun, hal itu pula yang sering menjadi kendala. Bukan hanya bagi si pria, melainkan juga si wanita. Ketika si pria sudah beranjak mapan, misalnya, si wanita malah merasa tak kerasan – dengan sejumlah alasan. Atau, ketika si pria mencoba meyakinkan dirinya untuk melamar gadis yang bertahun-tahun ia pacari, si gadis rupanya tak berkomitmen untuk melanjutkan hubungan tersebut; si gadis tak berupaya meyakinkan dirinya sendiri alih-alih kedua orangtuanya terkait pilihan hatinya itu.

Kita bisa lihat, dari situlah standar tinggi pernikahan ala millennial tadi bermula; ketika salah satu pihak gagal meyakinkan diri soal ikatan suci. Maka, tak heran jika akhirnya desakan berupa resepsi yang mewah, mahar yang tak murah, dan pengeluaran-pengeluaran lainnya (dengan berlindung di balik adat dan tradisi), mengemuka dari salah satu pihak atas pihak lainnya.

Tak selalu juga tentu. Sebab, kadangkala kita sendiri yang menerapakan standar tinggi untuk sesuatu yang esok pun tak ada lagi alias resepsi. Pernikahan, ternyata, juga soal efisiensi, selain pilihan hati.

Di hari-hari belakangan ini, semuanya serbacepat dan lekas, termasuk dalam soal usia pernikahan. Nahasnya, mereka yang tak ingin disebut kembali ke zaman dahulu itu malah terperosok ke dalam gaya lama: nikah di usia muda. Namun, ada satu pedoman yang hilang dewasa ini: kesederhanaan.

Selanjutnya mari simpulkan: Tiap pasangan akan menikah bukan lagi pada waktunya, melainkan jika ada dananya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *