Galau Tak Berujung

Galau Tak Berujung

Bagaimanakah galau bermula dan di manakah, kelak, ia berujung? Tak ada yang tahu soal yang kedua. Sementara untuk soal yang pertama, kita perlu semacam napak tilas; membaca isyarat dari sebuah luka: semua bermula dari keyakinan buta — yang kemudian mengaburkan semua realita.

Namun, kita tahu galau memang sudah ada sejak berabad-abad lalu. Bahkan, mungkin sejak sepasang manusia pertama itu “terbuang” ke bumi. Jika harus merujuk kepada kisah Adam dan Hawa itu, kita teringat kepada masa puluhan tahun yang dijalani keduanya hingga bertemu kembali.

Tentu saja ada (ke)galau(an) di sana, meski mungkin tak terbahasakan. Sebab, siapa pula yang akan mendengarnya saat itu — sementara belum ada siapapun yang berwujud manusia di sana kecuali dirinya?

Dari itu, seharusnya kita tahu: galau ter(ge)letak di kepala dan kalbu. Jauh setelahnya, meski manusia makin banyak jumlahnya, galau itu tetap bersemayam di sana. Hanya sedikit dari jumlah besar itu yang kadang-kadang mengumumkannya ke khalayak ramai.

Itu jadi masalah, tentu. Sebab, “kodrat” telah dilanggar: seharusnya ia tak diumbar.

Di era millennial, hal-hal semacam itu malah mendapat pembenaran. Kuasa digital dalam kehidupan sehari-hari pun memang telah merenggut hal elementer dari (ke)hidup(an): privasi telah terkepung niat mem-posting sesuatu —entah quote atau kata-kata yang diniatkan sebagai penegas adanya masalah.

Sejak itu, semua pun tahu — atau harus tahu…

Barangkali, hasilnya akan berbeda jika galau tadi “diterjemahkan” sebagai karya. Sheryl Sheinafia mungkin salah satu yang melakukan itu. Penyanyi itu mengakui hal tersebut saat showcase peluncuran album keduanya di rumah makan cepat saji di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (20/6/2017) silam.

Dikutip dari Kompas.com, ia mengatakan, “Ini lagu galau yang saya buat. Zaman sekarang kalau enggak galau, bukan milenial ya?”

Pertanyaan yang ia tujukan kepada para penggemarnya tersebut, juga menjadi alasan di balik terciptanya lagu “Kali Keduanya”. Sepintas, dari perkataan Sheryl itu, ada satu hal mendasar yang bisa kita maklumi dari generasi ini — dengan memelintir kalimat Penyair Chairil Anwar: yang tak galau, jangan ambil bagian di era millennial.

Padahal, jika ditelusuri, “ritus” galau sudah ada sejak jauh hari, tetapi mengapa begitu menggebu di masa ini? Tentu saja jawabannya karena saat ini semuanya terlalu gampang untuk dibagi (di media sosial).

Pertanyaan yang kemudian menerpa kita, “Apakah galau harus dibagikan, sebagaimana kebiasaan kaum millennial itu, atau dipendam saja, (mungkin) seperti halnya yang dirasakan Adam berpuluh tahun? Buat menjawabnya, yang perlu dilakukan cuma mencari tahu sebab-sebab kegalauan itu sendiri.

Pasalnya, tentu ada beda cara buat menanggulangi galau karena kisah percintaan dengan galau karena cobaan hidup. Itulah yang jarang sekali diketahui oleh generasi millennial. Mereka itu juga lah yang kerap merasa kegalauan hanya lahir dari getirnya cinta dan harus bermuara sebagai sesal dan air mata.

Maka, tak heran kalau kaum millennial banyak yang akhirnya tak mengetahui bahwa persoalan hidup juga tersentuh oleh kata dan makna “galau” — yang tentu lebih dalam maksudnya ketimbang galau karena cinta (padahal hanya asmara!). Itu karena mereka di-ninabobokan oleh semangat buat “mengejar yang sebentar”, sebagaimana tercermin dari perilaku doyan posting.

Karena itu, Sheryl, seharusnya, bilang begini, “Dari zaman dulu, kalau enggak galau, ya, enggak manusia, kan?” Lalu kita bisa menambahkan, “Tanya di mana ujungnya galau? Kalau sekarang, sih, di media sosial.” ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *