Ekspor Skuter Listrik China Melonjak di Asia Selatan Imbas Krisis BBM Selat Hormuz

Ekspor Skuter Listrik China Melonjak di Asia Selatan Imbas Krisis BBM Selat Hormuz
Ekspor skuter listrik China ke Pakistan naik 291% dan ke Bangladesh 553% pada Agustus 2025.

KAWULA.ID — Ekspor skuter listrik China ke tiga negara Asia Selatan melonjak drastis setelah harga bahan bakar meroket akibat ketegangan di Selat Hormuz. Data bea cukai China mencatat kenaikan 291% ke Pakistan dan 553% ke Bangladesh pada Agustus, sementara pengiriman ke India hampir berlipat ganda dibanding tahun sebelumnya.

Lonjakan itu terjadi saat warga India, Pakistan, dan Bangladesh mencari alternatif transportasi yang lebih murah di tengah mahalnya bahan bakar. Ketegangan di Selat Hormuz membuat pasokan minyak mentah ke kawasan tersebut terganggu, memicu kenaikan harga yang menghantam langsung biaya harian rumah tangga.

Data bea cukai China yang dikutip laporan Global China Unit menunjukkan ekspor skuter jadi ke India hampir dua kali lipat pada Agustus dibanding periode yang sama tahun lalu. Pakistan mencatat kenaikan 291%, sedangkan Bangladesh melonjak 553%.

Bangladesh Paling Terpukul karena Impor BBM Hampir 100%

Bangladesh menjadi contoh paling tajam dari pergeseran ini. Negara itu mengimpor sekitar 95% kebutuhan minyak dan produk petroleumnya, sehingga guncangan harga global terasa langsung di pompa bensin.

"Pada bulan Maret dan April, orang-orang mengantre mengisi bahan bakar selama delapan hingga 10 jam," kata Imran Zaman Khan, direktur divisi Rancon Motors, distributor otomotif yang berbasis di Dhaka.

Menurut Khan, sebelum krisis bahan bakar melanda, warga Bangladesh memandang kendaraan listrik sebagai fenomena negara lain. Setelah Maret dan April, skuter listrik berubah menjadi barang yang dipertimbangkan untuk kehidupan sehari-hari.

Pesaing dari India, yang selama ini menjadi pusat otomotif Asia Selatan, dinilai belum serius menggarap pasar skuter listrik di Bangladesh. "Konsumen pada dasarnya hanya punya dua pilihan: membeli kendaraan listrik buatan China, atau tidak beralih ke kendaraan listrik sama sekali," ujar Khan.

Sebagian Dirakit Lokal, tapi Komponen Inti Tetap dari China

Tidak semua skuter listrik yang dijual di Bangladesh diimpor utuh dari China. Sejumlah perusahaan merakit kendaraan di dalam negeri, meski komponen utamanya tetap didatangkan dari China.

Mostafa Al Mahmud, presiden Asosiasi Energi Berkelanjutan dan Terbarukan Bangladesh, menyebut biaya operasional skuter listrik hanya sepersepuluh dari motor berbahan bakar bensin. Perhitungan itu yang membuat konsumen cepat berpindah.

Berbeda dengan mobil listrik di negara Barat yang terhambat harga awal tinggi, skuter listrik justru kompetitif sejak awal. "Harganya benar-benar sebanding, banyak sepeda motor berbahan bakar bensin justru lebih mahal daripada skuter listrik," kata Al Mahmud.

Pengendara Perempuan dan Rasa Kebebasan yang Baru

Sebagian pembeli skuter listrik China bukan mantan pengguna motor bensin. Mereka pengendara pemula yang tertarik pada harga murah sekaligus mobilitas pribadi, terutama perempuan.

"Sebelumnya, perempuan jauh lebih jarang bepergian," jelas Al Mahmud. "Karena harganya, penjualan skuter listrik di kalangan perempuan meningkat pesat, karena mereka ingin memiliki kebebasan sendiri, akses mudah ke transportasi pribadi mereka."

Pola serupa muncul di Pakistan. Faiza Ashraf, desainer muda, membeli skuter listrik saat masih mahasiswa karena alasan keamanan dan kenyamanan. "Kami harus menggunakan transportasi umum atau taksi online, dan banyak perempuan menghadapi pelecehan dari para pengemudi. Selain itu, cuacanya juga sangat panas," katanya.

Ashraf termasuk pengguna awal, membeli sebelum harga bahan bakar naik ketika pengendara perempuan masih jarang terlihat. Setelah membagikan pengalamannya di dunia maya, banyak perempuan menghubunginya untuk belajar berkendara bersama. Kini ia rutin menggelar pertemuan komunitas pengendara perempuan di sejumlah kota di Pakistan.

Perlawanan Sosial di Tengah Tren yang Meningkat

Perubahan itu tidak diterima semua kalangan. Di Pakistan, India, dan Bangladesh, masih ada kelompok yang meyakini perempuan tidak seharusnya mengendarai sepeda motor atau bepergian sendirian.

Ketegangan di Selat Hormuz sendiri belum menunjukkan tanda mereda, sehingga tekanan biaya bahan bakar diperkirakan bertahan. Selama harga minyak tetap tinggi, permintaan skuter listrik murah dari China di Asia Selatan kemungkinan terus naik.

Bagi Beijing, krisis energi di kawasan itu membuka pasar yang selama ini dikuasai pemain otomotif India. Bagi warga di Dhaka, Karachi, atau kota-kota India, skuter listrik menjadi jalan keluar praktis dari antrean panjang di pompa bensin.

Ikuti Artikel Terbaru Kawula ID di Google News

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index