Di Tanah Transmigrasi dan Cerita-cerita Lainnya

Di Tanah Transmigrasi dan Cerita-cerita Lainnya

kawula.id – “Kalau ini di kota, mungkin (kami) sudah kaya.”

Seseorang yang duduk di hadapan saya mengatakan itu dan kemudian menatap kosong ke arah buah-buahan segar setengah terkupas yang berserakan di dekat kakinya. Saya hanya mengangguk sedikit mendengar jawaban itu; pura-pura mengerti. Jawaban itu sendiri lahir selepas saya menanyakan luas tanah yang ia tempati ini.

Di petak 50×50 meter itu, ia tak tinggal sendiri: seorang saudara kandungnya, laki-laki juga, ikut bermukim di situ, termasuk ibu mereka. Kiri-kanan di “kompleks” itu penuh rimbun sawit. Sepanjang jalan, di tepi, batang-batang pinang menjulang sebagai pembatas.

Laki-laki itu bersila, saat itu, dan seorang bayi, yang ikut meriung bersama kami, duduk-betah di pangkuannya. Sejak lima menit lalu, bocah berusia sekitar 7-8 bulan itu tak rewel lagi sebab seseorang itu adalah ayahnya, yang seolah-olah memang ia tunggu kepulangannya. Seseorang yang baru tiba ke rumah setelah bekerja di kebun orang lain: hampir lima jam ia mendodos sawit.

Mungkin upah dari pekerjaan itu, yang dibayarkan oleh si pemilik kebun saat transaksi jual-beli masa panen selesai nantinya, tak seberapa ketimbang tenaga yang telah seseorang itu, dibantu oleh saudara lelakinya, keluarkan. Saya terlalu naif, mungkin, membaca gurat kegembiraan dan kesederhaan di wajahnya, tapi jelas ini bukan sebentuk isolasi pribadi saya terhadap seseorang yang sudah lama tak saya temui. Saya hanya tak ingin gegabah menilai orang lain berikut pandangan-pemikirannya sebab seseorang itu sejatinya adalah paman kandung (dari pihak ibu) pacar saya.

*

Menempuh hampir delapan jam perjalanan, kami tiba di kampung ini. Letaknya menjorok ke dalam, persis di tikungan kiri sebuah simpang. Ke depan sana, satu jam perjalanan lagi, sebuah ibu kota kabupaten akan kami temui. Namun, lawatan ini sederhana belaka meski niatnya menggugah: saya ikut dalam acara 1.000 hari mendiang kakek sang pacar.

Sesampainya di sana, setelah barang-barang dan perlengkapan lainnya diturunkan dari mobil, istirahat adalah tujuan kami. Tikar digelar dan kopi diseduh. Sore itu, langit girang, tapi awan mulai menggumpal hitam di beberapa titik.

Menjelang malam, saya bangun dari tidur (yang berarti istirahat) sekenanya itu dan seorang paman pacar saya menyela obrolan sejuk di antara mereka yang berhimpun di ruang tamu: “Sepertinya akan hujan. Kalian yang membawanya ke mari.”

Entah dengan dorongan apa, saya ingin mengatakan sesuatu, tapi tak jadi. Kalimat ini saya pendam sendiri: “Kami tak membawa hujan, tapi hujan yang menggiring kami ke mari.”

Sebulan sudah tanah-tanah di dusun itu tandus: sumur, yang di sini berupa cekungan keruh itu, terus susut debit airnya. Paman itu berkata, esok harinya, bahwa pernah juga banjir terjadi di sini. Rumah-rumah pada hari itu menunggu hanyut saja, ucapnya, di antara derau guntur dan ketakpastian waktu redanya hujan.

Saya tak bicara apa-apa lagi. Sore tadi, saya ingat momen saat bersama pacar melongok ke sumur itu: airnya putih, nyaris biru, dan di sekelilingnya tanah cokelat lembek dengan sampah bertebaran. “Andai saja hujan …,” kata pacar saya dan pada malam hari itu langit menjawab doanya dengan mengembalikan air yang diserap dari semua genangan kepada pemilik azalinya: bumi.

*

Seandainya saya tak melihatnya, mungkin tulisan ini tak akan ada: seorang pria paruh baya datang ke rumah kayu ini pada senja cerah itu dan menyorongkan uang senilai puluhan ribu. Setengah jam kemudian, dua kakak beradik lelaki yang rumahnya saya tumpangi itu seolah-olah menciptakan momen haru buat saya meski itu tak baru. Si adik berujar kepada si abang: “Ini upah menyemprot sawah dari Bapak Anu.”

Saya tahu pekerjaan itu bukan selesai kemarin sore, sementara upahnya baru tiba hari itu.

Pada malam hari, bermodal sebatang-dua jaringan internet, kabar viral itu mondar-mandir di lini masa media sosial dan menyesakkan siapa saja: seorang sarjana, fresh graduate, sungkan akan gaji 8 juta yang ditawarkan oleh sebuah perusahaan, tempat ia menagih kerja. Ia, mungkin, tak hendak takluk di hadapan rutinitas yang kelak menjaring seluruh tenaganya dengan upah “cuma segitu”. Barangkali juga ia kelewat bosan dengan dunia yang cuma begitu saja: kerja, diupah, lalu (sebagaimana sepotong sajak Chairil Anwar) kawin, beranak, bahagia.

Hidup memang siklus ajaib, tampaknya: orang muda mengeluhkan gaji mininum yang diperolehnya, sedangkan pada hari tua nanti ia berlagak pikun dan menerima saja dana pensiun yang tak seberapa dari perusahaan yang sama seraya mengemis jatah bagi lansia dari pemerintah.

Alangkah malang sarjana muda itu lantaran tak pernah tahu: pada tahun 1982, satu rombongan besar dari Jawa Barat tiba di sini dari sebuah perjalanan panjang via darat. Para transmigran ini disubsidi setahun penuh oleh pemerintah: beras, gula, dan keperluan lain yang intinya adalah bagian penting dari sembilan bahan pokok (sembako). Bisakah ia, si sarjana itu, bayangkan: bagaimana rupa-rupa kemiskinan yang dihadapi oleh para pendatang itu di kampung halaman mereka nun jauh di sana hingga perpindahan menjadi langkah yang kemudian dianggap dapat memberi harapan?

(Saya, dan mungkin Anda juga, tentu tak lagi mementingkan jawaban si anak muda, jika ia memang bersikeras memberi perspektif alias jawaban terkait hal itu, sebab rasa haru bercampur iba telah menyergap kita dalam perkara ini.)

Menjelang tidur, wajah Bapak Anu, telapak tangan kasar yang menerima upah itu, dan senyum yang mekar saat uang itu beralih tuan, terus membekas di ingatan saya.

*

Sebuah rumah, mungkin tipe 24 dalam standar perumahan, berdiri di samping rumah kayu yang menampung kami. “Istirahatlah di dalam atau tidur di situ saja nanti, ya”, kata si tuan rumah, yang tak lain adalah paman pacar saya, pada sebuah sore, “tapi memang agak panas rasanya kalau malam.”

Dinding rumah itu bersepuh hijau dan sisa semen, dalam sapuan agak tergesa oleh seorang tukang, meluber-mengeras di lantai terbawah teras. Pada malam sebelum balik ke kota kami, saya sempatkan bercakap-cakap dengan istri si tuan rumah dan redaksinya saya kutip begini:

“Rumah kami ini dibangun sebagai bantuan dari Program Keluarga Harapan (PKH) dari pemerintah (atau barangkali yang ia maksud adalah Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya [BSPS], tapi saya belum tahu). Adapun kisaran dana pembangunannya tak kami ketahui sebab bantuan dari pemerintah itu telah mencakup biaya tukang dan bahan material. Sudah setahun, agaknya, rumah ini jadi dan kami tempati.”

Malam terus berangsur di antara percakapan itu dan hari sudah berumur 21.00 WIB. Saya pamit kepada istri paman itu dan mengenang dengan jernih kalimat nenek beberapa waktu lalu: “Rumah besar (peninggalan kakek buyut) di kampung kita, sekarang satu kamarnya sudah dipugar. Bibimu menerima bantuan 15 juta rupiah dari pemerintah dan uangnya buat itu (pembangunan kamar baru). Keluarga besar nenek, terutama anak-anak dari salah seorang saudara perempuanku, ribut karena itu. Mereka merasa punya hak atas itu …”

Saya tak mampu membayangkan betapa sedih paman pacar saya jika mengalami hal yang sama dengan bibi saya di kampung itu: sudah dirundung malang (lantaran terjerat kemiskinan), jadi bahan omongan pula oleh keluarga. Tiga hari kemudian, dari cerita sang pacar, saya baru tahu bahwa perempuan (istri paman pacar saya) yang bercerita soal huniannya itu, sedang menderita penyakit terkait kelenjar getah bening.

*

“Kalau di Malaysia, mobil murah. 15.000 ringgit bisa dapat satu,” ucap seseorang yang saya kenali suaranya. Ia, paman pacar saya penerima PKH itu, kemudian berkisah soal pengalamannya merantau ke negeri jiran tersebut. Di sela cerita petualangannya itu saya akhirnya tahu bahwa ia memang bukan menjadi “pendatang haram” di Malaysia, tapi paspor yang ia gunakan untuk bekerja (sementara waktu) di negeri itu adalah paspor pelancong.

Ia berujar, “Cuma tiga bulan di sana, pulang. Orang Malaysia itu nggak kaget, tapi lucu. Katanya, ‘Orang Indonesia ini kaya-kaya, ya, melancong saja kerjanya.’ Lah dia nggak tahu aja kalau paspor pelancong itu kami pakai untuk bekerja, tapi takutlah seadainya ketahuan, ditangkap, lalu diinterogasi.”

Kami terpingkal-pingkal di bagian leluconnya itu, tapi sontak hening saat mendengar ia berbicara soal penangkapan dan interogasi. “Apa ‘suntik gila’ masih ada?” tanya saya.

Ia menggeleng. Mungkin ia tak tahu kondisi sekarang atau memang “kekejian” itu sudah tak ada lagi, saya tak mampu menerkanya dan urung bertanya.

Malam itu ia terus berbicara kepada saya soal mobil murah di Malaysia dan saya tetap tekun mendengar kisah yang diulang-ulang tersebut. Sesekali, saya melirik ke arah mobil yang membawa kami ke mari: tampak lecek, pada bannya terlihat gumpalan tanah liat separuh lembap yang menempel lantaran akses jalan di sini basah disebabkan oleh hujan, dan debu pada seluruh kaca mobil itu seolah-olah minta diseka sekarang juga.

Paman itu terus saja bercerita …

*

Apa yang menarik dari laku perpindahan? Bagi saya dan kaum sepersukuan kami, pindah bukan masalah, tapi (me)rantau berarti keluar dari negeri, dengan kesadaran yang tinggi, dan biasanya tak akan kembali apabila belum sukses (meski tak jelas ukurannya). Ketika saya melihat orang-orang di kampung keluarga pacar saya ini, ada perihal yang awalnya mengganjal, tapi kemudian tak lagi: tak rindukah orang-orang ini kepada tanah leluhur mereka?

Mungkin tidak: tiap tanah yang ditempati kini, jika ikut pepatah ikonis itu, adalah juga langit yang mesti dijunjung. Karena itu, rumah-asal, atau katakanlah kampung halaman nenek moyang, mungkin telah menjadi bagian dari dongeng lama dan tak hendak dijenguk lagi. Namun, saat sampai pada kesimpulan sembrono itu, saya selalu ingat peribahasa lain: tak putus air dicincang.

Kampung atau kota, barangkali cuma pengertian yang dibangun oleh kebutuhan dan pandangan sempit kita belaka: sesuatu yang di kota biasanya berwujud (dan dibicarakan sebagai) modal, kerja, upah, lalu lintas, kesemrawutan, hiruk-pikuk, pragmatisme dan individualitas para tetangga, yang di sisi lain, di desa atau kampung, justru menghadirkan sisi terba(l)ik kehidupan, seperti pohon-pohon asri yang terus berbunga, dangau di tengah hijau, sumur timba, cekungan berair yang kering, sabun mandi yang berangsur pipih, odol yang sekarat dengan butir-butir pasir pada penutupnya, dan sebagainya.

“Hidup macam apa ini!
Orang-orang dipindah ke sana ke mari.
Bukan dari tujuan ke tujuan.
Tapi dari keadaan ke keadaan yang tanpa perubahan”

Konteks sajak WS Rendra (“Sajak Kenalan Lamamu”) di atas mungkin tak “lurus” menggambarkan perpindahan yang saya maksud dari cerita-cerita di atas tadi, tapi, toh, hidup memang siklus ajaib: seseorang/sekelompok orang pindah, yang lainnya datang; ada yang tabah diupah begitu rendah, sisanya mendongakkan dagu saat menolak gaji demikian tinggi.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *