De De Pyaar De: Pemakluman Atas Mimpi ‘Nakal’ Pria

De De Pyaar De: Pemakluman Atas Mimpi ‘Nakal’ Pria

Apakah perbedaan usia mempengaruhi hubungan romansa? Mantap menyebut “usia hanyalah angka” akan terdengar seperti penyangkalan naif, tapi seperti dituturkan De De Pyaar De, itu bukan faktor penentu tunggal.

Ketika dua individu berada dalam “satu frekuensi”, perbedaan tersebut justru dapat melengkapi keping-keping puzzle hidup seseorang ketimbang mengacaukannya.

Ashish (Ajay Devgn) adalah duda berusia 50 tahun sekaligus pebisnis kaya raya di London. Bukan cuma berkarisma, Ashish pun memiliki citra “gentleman”, yang dibuktikan ketika ia enggan mencuri kesempatan saat gadis cantik 26 tahun bernama Ayesha (Rakul Preet Singh) mabuk berat selepas pesta dan tertidur di rumahnya. Ketertarikan di antara mereka timbul sejak itu.

Stigmanya jelas: pria tua kaya raya terpesona oleh fisik wanita muda, wanita muda tertarik pada harta si pria tua. Tapi naskah buatan Luv Ranjan (Pyaar Ka Punchnama, Sonu Ke Titu Ki Sweety), Surabhi Bhatnagar (Dil Juunglee), dan Tarun Jain (Pyaar Ka Punchnama 2) secara cerdik menampilkan bahwa bukan hubungan semacam itu yang terjalin, dengan membangun interaksi kedua tokoh utama lewat deretan banter jenaka.

Ashish dan Ayesha saling menggoda, melempar “hinaan” yang kebanyakan berkutat seputar usia masing-masing, dan tak sekalipun mereka kehabisan kata. Balasan tajam selalu terlontar, memproduksi nuansa manis yang memudahkan kita percaya jika keduanya saling terkoneksi. Walau mulut berkata “tidak”, mata mereka menyatakan sebaliknya. Seolah saling dorong untuk menjauhkan diri, sesungguhnya mereka tengah saling tarik demi mendekatkan hati.

Pendekatan tersebut, ditambah ragam variasi humor efektif dari verbal hingga lelucon referensial (kalau tidak salah lagu tema Singham sempat terdengar) dan pengadeganan cekatan dari sutradara Akiv Ali, menghadirkan dinamika juga hiburan luar biasa, yang memiliki romantisme lebih dari cukup guna memancing kepedulian akan hubungan dua protagonis. Saya ingin mereka selalu bersama.

Meski penulisan dialog merupakan kunci, jalan yang De De Pyaar De tempuh jelas membutuhkan chemistry kedua pemeran utama, dan serupa karakter yang dimainkan, Ajay Devgn dan Rakul Preet Singh saling melengkapi. Rakul bertenaga, Ajay lebih tenang, dan pertemuan dua kutub berseberangan itu  membuat paruh pertamanya jadi salah satu komedi-romantis Bollywood paling memuaskan selama beberapa waktu terakhir.

Kenapa saya sering menekankan “paruh pertama”? Karena paruh keduanya adalah titik balik mengejutkan. Titik balik yang amat problematik, kemunculannya nyaris merusak keseluruhan film andai tidak dibarengi keberhasilan paruh pertama merebut simpati untuk protagonisnya.

Ashish mengajak Ayesha ke India, mempertemukan sang kekasih dengan keluarganya, termasuk si mantan istri, Manju (Tabu) beserta kedua anaknya yang berusia tidak jauh dari Ayesha. Tapi realita tidak semulus rencana. Timbul berbagai kejutan, dan beberapa di antaranya mengubah persepsi positif saya terhadap Ashish.

Dari pria terhormat, Ashish menjadi pengecut, dan dari film yang memasang perspektif modern terkait ragam isu sosial (perceraian, tinggal bersama sebelum menikah, hubungan beda usia, gender), De De Pyaar De bagai menjadi usaha menjustifikasi perselingkuhan dan kegagalan pria menahan nafsu. Dari jajaran masalah yang diperkenalkan di paruh kedua, semuanya bermuara ke persoalan keluarga dan percintaan. Teruntuk konflik keluarga, Ashish berkesempatan menebus kesalahan, tetapi dalam urusan asmara, ia terus melakukan tindakan yang sukar dimaafkan, bahkan hingga akhir. Pun dia terlalu pengecut untuk berinisiatif mencari jalan keluar.

Di samping komedi yang tak pernah kehilangan kelucuan, sebagaimana Manju seorang diri merekatkan keluarganya, penampilan Tabu menjaga film ini agar tak seutuhnya runtuh. Menyaksikannya berdiri kokoh di atas tumpukan permasalahan dengan sorot mata tanpa rasa takut adalah sesuatu yang tidak ingin Anda lewatkan.

Benar bahwa tidak seperti yang dikhawatirkan banyak pihak, De De Pyaar De bukan kisah soal dua wanita memperebutkan pria—yang sejatinya sah-sah saja—tetapi ini adalah bentuk pemakluman atas mimpi nakal pria di mana mereka bisa berbuat semaunya. Tapi paruh pertamanya sangat mengesankan hingga mampu mengatrol keseluruhan kualitas film. Mungkin perasaan “telanjur cinta” macam ini yang mendorong Manju dan Ayesha bersedia memaafkan Ashish. Memang keliru, tapi bagaimana bisa saya membohongi perasaan?

Penulis: Rasyid Harry / Movfreak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *