Dari Tiga “Goals”: Tubuh, Hubungan, dan Kehidupan

Dari Tiga “Goals”: Tubuh, Hubungan, dan Kehidupan

kawula.id – Tiap sore ada pemandangan: bapak-bapak ubanan atau seorang ibu bersama anak gadisnya, berlari sepanjang jalan menuju arah kediaman saya–seakan-akan hendak mengukur panjang aspal. Mereka bersetelan “lengkap”: bapak itu, juga si ibu dan putrinya, mengenakan jaket parasut dengan warna mencolok, tetapi, apabila si bapak “nyeker”, ibu dan gadis itu justru sebaliknya; mereka bersepatu olahraga. Persamaan di antara mereka cuma dua: 1) terus berlari dan tak saya tahu titik akhirnya dan 2) berat mereka lebih dari 65 kilogram.

Barangkali mereka hendak menurunkan berat badan atau memang rajin berolahraga, tak ada yang ambil peduli. Mungkin mereka ingin menikmati udara segar sore hari, tak ada yang tahu pasti. Pikiran saya dan kebanyakan orang saat berhadapan dengan pemandangan itu, agaknya, sama: mereka ingin sehat dan bugar–dengan kata lain: beroleh tubuh remaja dulu itu, kembali.

***

Ketika istilah “relationship goals” beberapa tahun silam sedang viral di internet, saya menemukan dua istilah lainnya: “body goals” dan “life goals”. Tiga istilah ini unik buat saya, utamanya saat menyaksikan kehidupan saya dan teman-teman pada masa itu: kami tidur pukul 03.00 dini hari, bangun kesiangan (sekitar pukul 10.00 ke atas), langsung ngopi, lalu makan siang pukul 13.30 atau lebih, dan ngantor atau menjalani kesibukan masing-masing. Sederhananya, buat kami, “body goals” itu masih jauh panggang dari api.

Loading...

Tiap mengenang masa-masa dewasa awal itu, saya teringat seorang saudara dekat yang punya rumah dengan luas setengah lapangan bola. Di rumah itu, alat-alat fitnes lengkap dan terdapat di sebuah ruangan khusus. Jika ingin menggowes, tak perlu takut sengat matahari di luar sana sebab di sini pun tersedia. Apabila pengin berlari, tak mesti menginjak aspal karena di sini juga ada alatnya. Jika mau …

Semua memang ada rumah itu dan saya tak pernah sekalipun mencobanya. Tubuh masa kecil saya yang kerempeng, rasa-rasanya, tetap tak tertolong oleh alat-alat itu. Betapa pun mangkusnya perkakas pembentuk tubuh (dan menyehatkan) itu, bagi bocah kurus seperti saya tampaknya tak ada waktu buat berubah. Liburan saya yang cuma beberapa hari ke rumah itu, tak pernah cukup buat menebus tubuh indah bak peragawan muda.

Sialnya, tubuh si empunya alat pun tak jauh beda dengan saya meski dalam spektrum berbeda: perut buncit dan kurang segar sebagai pria 40an tahun. Mungkin ia harus menggunakan alat-alat itu dan hibernasi di kamar tersebut selama 40 hari, benak saya, agar tubuh seorang atlet muncul di cermin dan tampak oleh semua mata saat ia keluar nantinya.

***

Mahbub Djunaidi adalah seorang yang lucu. Kolumnis tetap di rubrik “Asal-Usul” Harian Kompas itu pernah membikin tulisan soal hidup sehat–saya lupa judulnya. Di tulisan itu Mahbub bilang bahwa pada masa itu, sekitar 1990an (barangkali), orang-orang tengah gemar aerobik. Akibatnya, di lokasi mana pun, nyaris akan ditemukan ibu-ibu dan bapak-bapak yang begerak ke sana ke mari dengan atau tanpa alunan musik; semuanya gila aerobik.

Bukan Mahbub namanya kalau tidak menyentil sehingga ia pun menegaskan bahwa meski dirinya pun sudah menjauhi rokok dan rajin aerobik (bahkan ia membeli semua alat-alat terkait itu), ia masih meragukan orang-orang akan sehat dan bugar sebagaimana harapan si penemu aerobik. Jika dibaca lebih mendalam, sentilan Mahbub sejatinya bukan hanya menyasar soal sehat atau tidak sebuah masyarakat, dengan berpijak kepada kegemaran berolahraga, melainkan lebih jauh lagi: ia ingin mengatakan bahwa bangsa yang sehat bukan hanya diukur dari kebugaran tubuh, melainkan juga jiwa. Oleh sebab itulah ia menyindir praktik taruhan legal pada masa itu, yang menurutnya tak ada gunanya.

Bukankah upaya untuk mendapatkan tubuh sehat juga sebuah perjudian? Tanyakan kepada Mahbub dan jawaban lucu penuh sarkasme akan lahir dari penulis yang sudah koit itu. Alfatihah …

***

“Relationship goals” adalah Awkarin, demikian sebaliknya. Saya sampai pada kesimpulan itu karena selalu mendengar bahwa Awkrin-lah yang memopulerkan istilah itu di tanah air. Mungkin hal itu terlalu berlebihan, tetapi Awkarin jelas punya ruang sendiri: ia dianggap telah mengoyak tirai-tirai kesopanan dan meluaskan tren berpakaian anak muda seusianya dan karena itu urusan asmaranya selalu menjadi santapan para remaja. Saat waktu itu ia berpacaran, orang menganggap sang selebgram dan si lelaki yang memenangi hatinya sebagai salah satu pasangan anutan. Ketika Awkarin berciuman, orang menganggap itu tanda sayang yang indah; ketika ia berangkulan mesra dengan sang kekasih, orang bilang itulah kesejatian cinta. Intinya, apa pun yang Awkarin lakukan akan menimbulkan pernyataan, “Demikianlah cinta berjalan, seharusnya.”

Apabila Anda menganggap hal itu konyol, tentu Anda tak sendirian. Setengah dari populasi pengikut Awkarin jelas adalah pencibirnya. Hidup memang penuh keseimbangan dan karena itulah, di dalam pemujaan berlebihan terhadap sang “influencer”, besar pula perisakan yang akan ia tuai.

Apabila Anda menilai bahwa asmara Awkarin, dulu atau kini, bukanlah “relationship goals”, sekali lagi, Anda tak sendirian. Asmara atau hubungan ala “goals” memang tak ada rumusannya sebab tak ada satu gol pun yang persis sama di seluruh pertandingan sepakbola.

***

Menjadikan hobi sebagai pekerjaan adalah salah satu “life goals” anak muda zaman sekarang, demikian tertulis di sebuah artikel. Saya tergelak. Apakah benar-benar ada ikatan antara hobi dan pekerjaan?

Ketika berbicara soal itu, orang biasanya akan menunjuk semua gelanggang olahraga: di situ, kata mereka, Anda bisa lihat bagaimana hobi menjadi uang. Lagi-lagi, saya dan Anda mestinya tergelak. Hobi memang bisa apa saja, tetapi untuk urusan pekerjaan akan lain cerita.

Misalkan Anda seorang penulis dan memang hobi menulis, lalu menyebut bahwa Anda saat ini bekerja di bidang kepenulisan karena memang hobi menulis dan karena itu menjadi pekerjaan dan lantas dibayar. Terdengar menyenangkan, tetapi apa semua orang seperti Anda?

Ketika saya bertemu orang-orang dengan kesamaan minat, yakni menulis, ada satu hal yang setidaknya sampai hari ini saya simpulkan: tidak ada yang benar-benar ingin menggantungkan hidupnya sebagai penulis belaka, kecuali ia memang tak mau lagi mengeksplorasi kebisaan dan keterampilan di bidang lain. Dalam kasus itu saya melihat bahwa ada sekat tipis yang semestinya diterjemahkan begini: kita memang satu minat, yakni menulis, tapi hobi-lah yang sebenarnya-benarnya sama di antara kita, yakni membaca.

Mungkin tak sesederhana itu saat berbicara soal “life goals” dan karena itu satu contoh saja masih terasa kurang. Namun, apa boleh buat sebab daftar “life goals” yang saya temukan ternyata sama belaka–meski disusun hingga 100 macam: dari membuka lapangan pekerjaan sampai punya apartemen sendiri.

Hei, bukankah semua anak muda memang ingin membuka lapangan pekerjaan–melalui bisnis, misalnya? Bukankah semua orang berusia 25–39 tahun ingin tinggal di apartemen atau, setidaknya, sebuah rumah yang layak? Lantas, apanya yang “life goals”?

Mungkin karena tak semua orang mampu mewujudkan itu, benak saya, atau memang karena hal-hal semacam itu, termasuk soal “relationship goals” dan “body goals”, memang enak dipikirkan dan perlu diwujudkan ke depanya meski tak ada yang tahu sampai kapan; tak ada yang ambil pusing juga kalau terlaksana sebab yang akan hadir cuma tanda “love” atau komentar bernada memuji di semua unggahan di media sosial saat Anda memamerkan itu semua.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *