Dari Terkenal Baik sampai Palsukan Ijazah, Ini 7 Fakta tentang Oknum Guru Cabul di Malang

Polisi menangkap oknum guru SMP cabul di Malang, Jawa Timur (Foto: Okezone.com/Avirista Midada)

Kasus pencabulan oleh seorang oknum guru bernama Chusnul Huda (38 tahun) di Malang, Jawa Timur, terhadap para siswanya mengejutkan banyak pihak. Adapun korbannya berjumlah 18 orang.

"Luar Biasa. Orang sungguh tidak menduga," ucap Kepala Sekolah SMPN 4 Kepanjen, Suprianto (56), di Polres Malang, Jumat (6/12/2019), dikutip dari Kumparan.com.

Namun, pelaku pencabulan itu berhasil dibekuk Satreskrim Polres Malang di SPBU Talok, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang pada Jumat sore (6/12/2019).

"Penangkapan Pelaku pukul 16.30 WIB. Kami cari 2x24 jam dengan menurunkan 3 tim buser karena pelaku tidak berada di rumahnya dan tidak diketahui keberadaannya. Saat diamankan, tidak ada perlawanan," kata Kasat Reskrim Polres Malang, AKP Tiksnarto Andaru Rahutomo.

Chusnul Huda dalam konferensi pers sudah mengakui bahwa dirinya mencabuli 18 siswanya. Inilah 7 fakta tentang kasus pencabulan itu:

1. Terkenal Baik dan Suka Membantu

Kepala Sekolah SMPN 4 Kepanjen, Suprianto mengakui bahwa pelaku Chusnul Huda di sekolah terkenal baik dan suka membantu. Ia menyebut, selama mengajar, pelaku tidak menunjukkan gerak-gerik mencurigakan sama sekali. Bahkan, di antara guru-guru lain, Chusnul terkenal suka menolong. 

"Pelaku memang suka membantu selama mengajar. Baik guru maupun siswa, sering dia bantu," tuturnya.

Di samping itu, imbuh pria 56 tahun ini, pelaku merupakan sosok yang terlihat rajin. Setiap pagi, pelaku terpantau datang lebih awal untuk menyalami siswa-siswa. 

"Selama ini dia rajin, suka membantu, tiap acara selalu tampil di depan, dan selalu datang lebih pagi untuk menyalami siswa-siswa. Jadi, tidak ada kecurigaan sama sekali di antara para guru," jelasnya.

2. Palsukan Ijazah S1 untuk Melamar Kerja

Saat mendaftar menjadi guru di SMPN 4 Kepanjen, Chusnul Huda mengaku menggunakan ijazah palsu. Pasalnya, ia tidak pernah lulus dari studi S1-nya di Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama). Dalam konferensi di Polres Malang, Sabtu (7/12/2019), kepada Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung, pelaku mengakui selama ini memalsukan ijazah.

Pelaku menyebut, dirinya hanya menjalankan studi hingga semester 4. Diakui pelaku, dirinya nekat melamar menggunakan ijazah palsu setelah melihat lowongan kerja di SMPN 4 Kepanjen. Lalu, ia memfotokopi ijazah milik kawannya dan mengganti pas foto dan nama di ijazah tersebut. 

"Awalnya ada lowongan di sekolah itu, lalu saya melamar menggunakan fotokopi ijazah palsu tersebut," bebernya.

3. Mengincar Siswa Tampan dan Berkulit Putih

Adapun pelaku mengaku sudah mengincar mangsanya sejak korban duduk di kelas VII. Chusnul lantas mendekati korban dengan modus kegiatan modelling. Adapun menurut salah seorang siswa yang tak ingin diungkap identitasnya, pelaku mendekatinya sejak kelas VII. 

"Awalnya setahun yang lalu saya masuk kelas VII ditawari masuk kegiatan modelling," katanya.

Menurut AKBP Yade Setiawan Ujung saat konferensi pers, Sabtu (7/12/2019), pelaku memang mengincar siswa yang terlihat tampan dan berkulit putih. 

"Memang pelaku mengincar siswa yang kelihatan putih dan tampan," tuturnya.

4. Menyukai Sesama Jenis sejak Usia 20 tahun

Disampaikan Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung, pelaku sudah menyukai sesama jenis sejak 18 tahun yang lalu. Itu berarti, pelaku sudah menyukai sesama jenis sejak usia 20 tahun. Adapun hal tersebut mengungkap kalau pelaku kemungkinan memiliki kelainan seksual sejak masuk ke bangku kuliah.

"Pelaku sudah menyukai sesama jenis sejak 18 tahun yang lalu, tapi untuk apakah memiliki riwayat kekerasan seksual di masa lalu, kami masih lakukan pendalaman," tutur Kapolres.

5. Melakukan Tindak Pencabulan di Ruang Tamu Guru BK

Aksi bejat pelaku selama ini dilakukan di ruang tamu guru BK. Hal itu terjadi setelah selesai kegiatan belajar-mengajar. Selama ini, pelaku melakukan aksinya dengan cara memanggil siswa calon korbannya sebelum pelajaran selesai. Setelah ruang tamu BK dirasa sepi dan tidak ada tanda-tanda guru lain, pelaku melepas celana korbannya dengan paksa dan mencabuli siswanya.

"TKP ada di ruang tamu guru BK. Pelaku mencabuli siswanya di sana setiap pulang sekolah pukul 14.00 WIB," tutur AKBP Yade Setiawan Ujung.

6. Pelaku Kumpulkan Sperma Korban

Dalam konferensi pers, Sabtu (7/12/2019), AKBP Yade Setiawan Ujung menyatakan bahwa selama ini pelaku melakukan tindak pencabulan dengan modus penelitian untuk studi doktoral atau S3. Selama ini, pelaku mengumpulkan sperma, bulu kemaluan, bulu ketiak, dan mengukur ukuran kemaluan siswanya. 
Korbannya sendiri mempercayai apa yang dikatakan gurunya.

Para siswa itu menuruti perkataan pelaku sebab yang bersangkutan adalah guru sehingga korban bersedia melakukan semua yang diperintahkan pelaku. 

"Pelaku ini melakukan tipu muslihat dan rangkaian kata-kata bohong untuk mengelabui korbannya dengan dalih penelitian S3," kata AKBP Yade Setiawan Ujung. 

7. Pelaku Lakukan Sumpah Al-qur'an

Pelaku selama ini diketahui juga menutupi aksi bejatnya dengan menyumpah Al-qur'an siswanya. Hal itu agar para siswa tersebut tidak mengatakan perbuatannya kepada orang lain. Sebelum dicabuli, siswa juga dipaksa bersumpah agar dirinya bisa bebas melakukan aksinya sekali lagi.

"Siswa tersebut disumpah di atas Al-qura'n sebelum dicabuli. Hal ini bertujuan agar siswa itu tidak bercerita kepada orang lain dan mengancam korban akan celaka jika nekat bercerita," tutur Kapolres Malang.(but)







[Ikuti Terus Kawula.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar