Dampak Buruk Pernikahan Sedarah pada Kondisi Anak

Dampak Buruk Pernikahan Sedarah pada Kondisi Anak

kawula.id – Publik tengah dihebohkan dengan kabar pernikahan sedarah pria asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, dengan adik bungsunya sendiri di Kalimantan Timur.

Pernikahan sedarah alias inses bukan hanya dianggap melanggar adat, hukum, dan agama, tetapi secara medis hubungan seksual sedarah juga bisa berdampak buruk pada anak yang dilahirkan kelak.

Kakak adik tersebut dikabarkan menikah siri secara diam-diam, yang akhirnya dilaporkan ke pihak berwajib oleh istri dari pria yang menikahi adiknya tersebut. Setelah diusut, sang adik ternyata sudah hamil 4 bulan. Lantas, bagaimana dampak pernikahan sedarah terhadap kondisi anak mereka kelak?

Ada kemungkinan cacat fisik serta kelainan darah

Inses atau hubungan seksual sedarah disebut-sebut dapat memengaruhi kondisi genetik keturunannya, sehingga risiko bayi terlahir cacat fisik maupun mental meningkat. Pelaku inses yang memiliki hubungan sedarah mempunyai materi genetik yang mirip, sehingga penyakit tertentu akan lebih mudah diturunkan.

Menurut dr. Devia Irine Putri dari KlikDokter, pernikahan sedarah memang memungkinkan bayi nantinya terlahir dengan kecatatan fisik, meski tidak 100 persen pasti. Sebab, yang perlu diingat di sini adalah, pasangan yang tidak sedarah pun bisa memiliki anak yang cacat karena adanya mutasi genetik.

Talasemia

“Iya, kemungkinan terlahir cacat fisik memang ada. Tapi sebenarnya pernikahan sedarah lebih berpotensi menimbulkan kelainan darah (masalah kesehatan yang tidak terlihat mata) pada keturunannya. Misalnya saja kondisi talasemia,” ungkap dr. Devia.

Talasemia adalah kelainan darah yang diturunkan dari orang tua. Kelainan tersebut membuat penderitanya mengalami anemia atau kurang darah karena sel darah merahnya terus-menerus pecah.

Hemofilia

Hemofilia adalah gangguan pembekuan darah, yang mana proses tersebut berjalan lebih lambat dari seharusnya. Akibatnya, perdarahan rentan terjadi. Dikatakan oleh dr. Nadia Octavia dari KlikDokter, hemofilia merupakan penyakit genetik resesif.

“Artinya, jika kedua orang tua memiliki gen pembawa (carrier) hemofilia, maka risiko keturunannya mengalami penyakit tersebut sangat tinggi,” katanya.

Baca selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *