Cinta Sejati Itu Seperti Hantu

Cinta Sejati Itu Seperti Hantu

“CINTA sejati itu seperti hantu,” kata seorang bijak yang namanya tak pernah dicatat sejarah. “Sebab ia ada, tapi tak banyak yang menyaksikannya.”

Mungkin karena “pasase” itu pula hampir setiap pasangan di dunia tiba-tiba menderita parafrénia. Meski tak banyak, tapi orang-orang yang jatuh dalam jerat “gangguan mental bertalian dengan paranoia yg tidak terlalu parah” itu selalu ada. Bahkan di antara kita. Singkatnya, karena gangguan psikologis itu, setiap pasangan jadi “serba-ingin”. Bukan “butuh”.

Padahal kita tahu, cinta melulu soal kebutuhan. Tanpa meniadakan “ketubuhan”, penyatuan, kebutuhan memang lebih jernih: di dalamnya, keinginan, juga nafsu, takluk di hadapan harapan. Kecuali soal perulangan, pengulangan, “kebutuhan” jadi pusat dari kerja: ia harus ada setelah tenaga dikerahkan. Lalu ekspektasi, seliar apa pun ia, bakal tandas ketika kebutuhan itu terpenuhi.

Tapi paranoia juga penting; ia menjelaskan bahwa cinta, pada mulanya, juga dibangun oleh ketakutan-ketakutan. Atau dalam larik Chairil Anwar: “Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar.”

Lalu kita ingat drama terkenal itu; Romeo dan Juliet. Shakespeare, sang penulis naskah fenomenal itu, meninggalkan warisan makna yang mungkin belum ada tandingannya: cinta, kiranya, juga dibangun dari pertentangan demi pertentangan, dari penentangan demi penentangan, selain penolakan.

Barangkali juga dramawan Inggris itu ingin menegaskan: cinta pun punya dialektika-nya sendiri. Meski tendensi-tendesinya mungkin juga tak banyak, tapi arasnya jelas: dari kesendirian ke kebersamaan, begitu sebaliknya. Siklus tersebut juga akan terus berputar hingga maut membuat kisah itu mulai pudar.

Tapi di situ pula (ke)setia(an) mulai menampakkan wujudnya: ketika yang dipisahkan maut tetap tak tercerabut cintanya. Dan kita ingat Edgar Allan Poe, juga sebaris kalimatnya: “Lord! Help my poor soul”. Entah dengan dorongan apa ia mengucapkan kalimat itu, tapi yang jelas sastrawan Amerika itu setia, terutama pada dunia kepenulisan.

Bagi Allan Poe, kesetiaan mungkin soal konsistensi. Meski ada yang mengejeknya apatah lagi tak menghargai karya-karyanya, tapi ia tetap menulis dengan teratur. Lalu ketika ia mati di Jalan Baltimore itu, orang-orang mungkin baru mengerti: penulis, juga sastrawan, nyaris selalu “lahir”, dihargai, ketika ia sudah mati. Bukan ketika bukunya terbit.

Tapi kematian seorang penulis terjadi berulang kali.

Cinta juga begitu. Para psikolog itu juga sudah menemukan: butuh waktu berbulan-bulan bagi seorang perempuan untuk meyakinkan dirinya jika seorang lelaki mengangankannya. Sementara lelaki sebaliknya: butuh waktu berbulan-bulan hingga ia sadar bahwa sang perempuan sudah tak menginginkannya. Mungkin jadi aneh ketika dalam kondisi itu, masa move on seorang lelaki, perempuan menyebutnya sebagai sikap tak tahu diri. Tapi aneh juga ketika lelaki menyebut masa itu sebagai tanda kesetiaan.

Hanya saja, dunia penuh dengan lambang hingga setia jadi identik dengan keabadian. Sebab itu juga parafrénia tadi jadi ada. Atau pula cinta sejati yang diibaratkan seperti hantu tadi tiba-tiba kita percayai. Mungkin itu karena kita takut dan selalu terdesak oleh keinginan untuk bersama dan seterusnya ingin selalu begitu hingga kita tiba-tiba benci siklus. Kita sebal akan sesuatu yang harus dititi dari pangkal. Oleh karena itu pula setiap upaya untuk sedikit bersusah-susah, bagi kita, seakan tak lagi punya makna. Termasuk mengayam kisah yang baru, tanpa lupa bahwa kita jugalah yang harus mencari rotannya ke dalam rimba.

Tapi jadi menarik ketika anak-anak zaman sekarang menyebut setia itu kolot. Sama menariknya ketika akhirnya kisah harus disudahi dan perasaan mesti ditinggalkan, mereka menangis. Sebagian yang lain mengutuk. Sedikit yang memberontak. Mungkin bagi mereka setia terlalu menakutkan, seperti hantu. Tapi menarik: jika tak setia, kesendirian yang akan menghantui mereka. Mereka tak percaya keajaiban waktu. Padahal kita tahu: kesetiaan itu hanya bisa dibuktikan ketika dua insan tak lagi bersama.

Setia itu mungkin perpisahan yang belum sempat tercipta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *