Cinta Majnun Kepada Layla Terpisah Antara Imsak dan Berbuka

Cinta Majnun Kepada Layla Terpisah Antara Imsak dan Berbuka

Menjumpai Tuhan dalam diri seorang perempuan
adalah cara paling sempurna.
Karena dengan cara itu,
seorang lelaki dapat menjumpai Tuhan
dengan cara aktif sekaligus reseptif.
(Ibnu Arabi; sebuah teks dalam Fushus Al-Hikam)

Ramadan dengan perintah berpuasa dimulai pada saat isyarat imsak tiba. Yang berarti, sejak itu, proses kewajiban berpuasa kembali berjalan. Aktivitas menahan diri dari segala yang “dilarang” mulai diterapkan.

Ada interval sampai berbuka, sampai bedug maghrib ditabuh, di situ kewajiban berpuasa berakhir secara syari’at. Meski di dalam ilmu tasawuf ada sebuah pesan, untuk terus membawa metode berpuasa itu sendiri melampaui maghrib, melampaui Idul Fitri, melampaui Ramadan. Sebab hidup membutuhkan metode berpuasa, membutuhkan proses menuju output dari perintah berpuasa. Agar kita sampai pada apa yang menjadi petuah dari seorang Mahatma Ghandi, “bumi tak cukup untuk ketamakan tiap orang”.

Bumi, seperti yang dikatakan Ghandi, tentu tak hanya direpresentasikan sebatas permukaan air luas yang dikitari sebagian kecil dari semenanjung dalam lanskap mikrokosmos. Ia bisa menjadi metafor, dalam turunan tafsir terhadap nilai kezahiran dan kebatinan seseorang. Bahwa ketamakan, juga bisa menjadi penyakit yang membunuh unsur-unsur subtansial seorang manusia – meminjam istilah Goenawan Mohammad — daging dan ruh yang bercampur itu.

Tetapi, jika merujuk pada tujuan dari kehidupan itu sendiri, bahwa sejatinya sejak kita dilahirkan, imsak telah berlangsung. Sejak dilahirkan, sesungguhnya proses menahan diri sudah harus diterapkan. Menahan diri untuk tidak melampaui batas-batas yang telah menjadi ketentuan Tuhan. Batas-batas itu adalah bentuk dari proses “berkhilafah”.

Bukankah kita diangkat derajatnya menjadi “khalifah”, dengan langsung turut serta melakukan proses “khilafiah” di muka bumi.

Ramadan dengan perintah berpuasa di dalamnya yang kita temui dalam al-manak berdasarkan atas hilal, atau isyarat pergerakan perangkat langit, adalah semacam transheet, snooze, atau pengulangan kembali dari proses misi yang sebenarnya, sebelum kembali melanjutkan perjuangan untuk konsisten mencapai output dari berpuasa itu sendiri.

Seperti halnya pagar-pagar syari’at dalam ibadah berpuasa, melalui dua pembatas (imsak dan berbuka), dapat kita tarik sebuah metafor tentang kisah cinta dari tanah Baghdad, yaitu asmara sepasang kekasih; Layla dan Qhais. Atau, yang lebih akrab kita dengar dengan akronim “Layla dan Majnun”. Qais diberi gelar Majnun, yang berarti “gila” karena kecintaannya yang sangat mendalam terhadap sosok Layla.

Kisah ini menjadi legenda dan menginspirasi sastrawan-sastrawan besar dunia lainnya seperti Shakespeare dengan Romeo dan Juliet, atau Buya Hamka dalam kisah Zainuddin dan Hayati.

Kisah yang digubah menjadi beberapa macam versi oleh penyair dan sufi besar di belahan Timur Tengah seperti, Al-Ashmu’I yang berasal dari Arab, Abd al-Rahman al-Jami dari Persia, serta, Nizami Ganjavi dari Persia (nama terakhir adalah yang paling banyak digunakan versinya dalam literatur arab), dan banyak lagi sastrawan Arab, Persia, atau India yang memiliki versi terhadap kisah tersebut.

Imsak, perintah berpuasa, hingga tabuh bedug sebagai batas berakhirnya puasa, adalah tiga mata rantai yang bisa diambil prosesnya dan diselami dari kisah cinta Layla dan Qais (selanjutnya disebut Majnun).

Majnun sebagai cerminan dari peristiwa Imsak, sementara Layla adalah kias dari peristiwa isyarat berbuka puasa, dan proses dari ibadah puasa adalah kisah cinta mereka yang kering terhadap identitas-identitas keduniawian.

Layla dan Majnun berakhir asmara setelah Majnun, lelaki yang tak memiliki strata lebih tinggi daripada Layla terpaksa harus menerima keputusan sosial yang tak berpihak. Ayah Layla tak merestui, Majnun menuju Makkah dalam upaya mengobati duka yang mendalam. Mencium kisbah (kain penutup Ka’bah), menangis, dan menyanyikan kidung kecintaannya kepada Layla.

Layla dinikahkan dengan seseorang yang tak dicintainya. Majnun merasa dikhianati, kemudian menyepi dan menyendiri pada waktu itu ke sebuah bukit, melintasi padang pasir, gunung, dan menghibau segala jenis binatang bak Nabi Sulaiman demi menyelami sudut-sudut keramaian dalam kesepiannya.

Banyak fragmen absurditas dalam kisah ini. Salah satunya adalah ketika seorang Jenderal dari perkampungan Majnun menyerang kampung Layla dalam upaya menundukkan Ayah Layla agar mau menikahi Majnun dengan putrinya. Sang Jenderal berbalik arah ketika mendapat Majnun malah menolong bala tentara dari Ayah Layla yang terluka.

Majnun semakin mepertegas kegilaannya di mata zahir. Ia sering berbicara dengan sungai, karena percaya air yang mengalir pada sungai akan melintasi Layla dan membawa pesannya kepada perempuan pujannya itu.

Majnun menjadi madu bagi hewan-hewan. Dikerumuni bak semut menemukan gula. Ia mencintai hewan karena meyakini hewan-hewan tersebut bersinggungan dengan Layla. Apapun yang dipandangnya, segala mengingatkan kepada sosok Layla.

Perilaku Majnun mempertegas kias dari sebuah Hadits Qudsi yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib, “ke manapun kamu memandang, di situlah wajah Allah”.

Majnun adalah bentuk dari cara mencintai dengan menafikan apa yang terpandang, dan kemudian menjadikan yang terpandang itu sebagai “pintu” ingatan kepada yang dicintai. Majnun bermahabbah, sesuatu yang pula harusnya menjadi tujuan dari sebuah ibadah; mencintai Allah.

Majnun berimsak, telah berpuasa terhadap dirinya, ia menahan diri dari segala kedekatan yang menghendaki identitas-identitas keduniawian. Yang dangkal, dan bisa menjadi sikap egoistis karena tertipu kepemilikan yang lahir dari identitas. Ia menikmati penderitaan yang masyuk. Sebab Majnun, mengerti, cinta bukan kebutuhan bahagia untuk dirinya saja.

Jika Majnun adalah embun shubuh seperti gong bagi seorang muslim untuk mulai berpuasa, maka Layla adalah bedug maghrib sebagai batas akhir bagaimana puasa pada akhirnya diakhiri dengan meniadakan lapar dan haus.

Sebagaimana pula di dalam pribadi seorang Rasulullah yang tak menghendaki adanya keberlebihan dalam melakukan sesuatu, termasuk pada saat berbuka puasa. Begitu pula Layla saat mengakhiri kisah asmaranya di dunia dengan Majnun. Meski terpaksa menerima dinikahkan oleh Ayahnya dengan lelaki lain, tapi Layla menjaga batas pada tubuh dan ruhnya demi kesucian cinta kepada Majnun.  

Pada bagian lainnya, Nizami menulis “Lakinnaha Tazhillu ‘adzra” (tetapi Layla tetap perawan). Kemudian Layla menulis sebuah surat kepada Majnun, yang pada bagian surat tersebut, menurut Nizzami, puncak kegilaan Majnun dalam memanifestasi cintanya kepada Layla. Yang mana pada bagiannya Layla menulis “La Yajma’u Ra’si wa Ra’sahu Firasy” (meski aku tidur satu rumah dengan suamiku, tetapi ranjangku tak pernah mempertemukan kepalaku dan kepalanya).

Layla dan Majnun dalam risalah Nizami, wafat dengan waktu yang tidak begitu jauh. Husein Muhammad dalam lamannya yang bersumber dari karya Nizami, menulis bagian akhir dari hidup seorang Layla dengan baris prosa yang mengiris. Layla wafat dengan wasiat “Bilamana aku mati, kenakan aku baju pengantin yang paling indah. Jangan bungkus aku dengan kain kafan. Carilah kain berwarna merah muda, bagai darah segar seorang syahid (martir). Lalu riaslah wajah dan tubuhku secantik mungkin, bagaikan pengantin yang paling cantik di seluruh bumi.Alis dan bulu mataku ambillah dari debu yang melekat di kaki kekasihku, Qais. Dan jangan usapkan ke tubuhku minyak wangi kesturi atau minyak wangi apa pun. Usapkanlah dengan air mata Qais, kekasihku”.

Setelahnya, Layla wafat, ia menyatu dalam cinta tak berbatas. Usai mengucapkan wasiat itu. Dalam sebuah riwayat lain pula dikatakan, ia menatap keluar dari jendela kayu, angin menghembuskan wasiatnya sampai kepada Majnun.

Majnun wafat setelah memeluk tanah merah pada kuburan kekasihnya. Ia dikubur di samping kuburan Layla. Dari dua tanah merah itu, konon disebutkan tumbuhlah dua pohon yang meliuk bagai sepasang manusia saling memeluk.

Kisah Layla dan Majnun banyak menginspirasi para Sufi. Para Sufi menyebutnya sebagai kisah cinta Platonis. Layla dijadikan simbol Sang Kekasih dan Sang Maha Indah (Tuhan), sedangkan Majnun sebagai simbol para pencari, para pengembara (al-Salik), para pencinta (al-Muhibb), atau si perindu (al-‘Asyiq), dan Darwish — meminjam tarian gugah rindu seorang Maulana Jalaluddin Rumi kepada Syams at-Tabriz.

Layla dan Majnun adalah kisah cinta yang tak memaksakan status-status keduniawian untuk disematkan pada hubungan mereka. Layla dan Majnun tahu, bahwa mereka sebenarnya sedang menuju wajah Tuhan yang sejati.

“Sesungguhnya cinta yang tulus antar manusia adalah awal perjalanan menuju pengenalan kepada Tuhan, memasuki pengalaman mencintai-Nya, dan limpahan anugerah, serta kemurahan-Nya.”
– Ibn Arabi –

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *