Cinta Lebih Baik Tidak Diucapkan atau Ia akan Lenyap

Cinta Lebih Baik Tidak Diucapkan atau Ia akan Lenyap
Loading...

“Cinta” katamu, “lebih baik tidak diucapkan. Atau ia akan lenyap.” (“Seperti Biasa”, Avianti Armand).

Banyak yang mengira, perempuan, sebagai salah satu “roh” kehidupan, kerap mangkir, menghindar, dan menampik tiap kali cinta “telah datang mengetuknya”, apabila perasaan itu sampai kepadanya. Padahal, dengan segala kelebihan, berikut keterbatasannya, perempuan, sejatinya, hanya belum memberi kesempatan.

Tapi memberi tentu berbeda dengan melihat: ada ruang di dalamnya, dan sebagaimana kaidah sebuah ruang, ia tentu ber-isi, baik benda maupun bunyi.

Inilah yang kerap rancu dipahami lelaki. Dengan mata telanjang dan pandangan awam, lelaki kemudian menjustifikasi perempuan akan selalu sama: si peragu. Atau kadang: sang pendusta.

Tapi pandangan seperti itu tentu juga tak lahir dengan sendirinya. Di titik terdekat, masa lalu kerap disebut-sebut sebagai kendala-nya. Kita dengar seseorang misalnya, yang dengan santai-nya akan mengutuk waktu sebagai perintang maksud dan pengabur sebuah tujuan itu: kebahagian. Telinga kita sontak diterpa pelbagai ucapan penyesalan: “Misalkan dulu dia…”, “Andai saja waktu itu kami…”, “Jika di masa itu aku…”, dsb., yang berupaya menegaskan kekecewaan dan/atau yang sedang mencoba menebalkan satu frasa: putus asa.

Loading...

Sementara itu, di titik terjauh, kita bi(a)sa mengerti akan hal itu: dunia kini berputar dalam gerak kemodalan alias materialistis, perempuan semakin kehilangan pesona (kesederhanan, misalnya) dan jiwa sentimentil, atau masa depan yang seolah-olah terhubung dalam kompleksitas dari percepatan teknologi. Tapi sekali lagi, tak ada yang ingin menyerah pada kondisi ini–meski nyala api tampak membakar harapan di depan.

Itu sebabnya kita perlu khawatir pada sesuatu yang ditaksir: perempuan, harta dan nasib. Mereka bisa lepas, tiba-tiba hilang atau datang tanpa bersalam. Tapi agaknya kita perlu waswas: jangan-jangan, kita-lah sumber masalah dan kita pula yang sedang menarik garis pembatas.

Barangkali terlalu sering juga kita dengar bagaimana seorang lelaki mengutuk jalan pikiran perempuan. Dalam situasi berpikir yang saru seperti itu pula lelaki dengan santainya menjatuhkan pilihan: ikut dengan-nya, atau pergi. Perempuan jadi tak punya lagi pilihan itu: mencoba menjalani (hubungan) tanpa terbebani, atau belajar memahami tanpa perlu “terikat”. Maka, pada situasi ini, rasa pesimis beroleh ruang yang belum terisi itu–dalam dada dan jiwa berupa rasa sanksi.

Menarik perbincangan ini ke dalam sesuatu yang (masih) terselubung dalam dunia perempuan, sebenarnya juga kurang relevan. Hati mereka ibarat puncak bukit, sementara para pendaki–lelaki yang tak kunjung berusaha meraih ujung dan puncak itu–hanya menyeru dari bawah–atau tengah memamerkan rasa sakit (?).

Selayaknya lelaki, perempuan tentu juga punya batas. Sejak semula, ia pun sudah beroleh sebuah demarkasi: hatinya tak mutlak dimiliki meski jantungnya telah dikuasai. Persoalannya jadi terang: sejauh mana perempuan dapat disentuh–tanpa maksud “melangkaui”. Sebab, kesetaraan tak akan pernah bertemu dan bertaut jika kita bicara soal kesamaan cara pandang.

Maka dari puncak bukit, perempuan (dan mungkin juga sesuatu yang dianggap lelaki sebagai masa lalu) terus menjatuhkan batu-batu. Di bawah, sang pendaki alias si lelaki selalu terlihat sedang meneguhkan rasa sakit, padahal batu-batu itu tak mengenainya, padahal para perempuan hanya sedang mencoba-coba ketahanan-nya, ketangguhan-nya dan sungguh, mereka tak sedang berupaya melukai-nya.

Betapa picik rasanya, bila kita terus mengalamatkan tuduhan pada perempuan, bahwa mereka adalah “pengacau”–dalam upaya merintis jalan (menuju cinta yang didambakan itu) hanya karena kita terlalu takut untuk memperkarakan kehendak tuhan (baca: tak dipersatukan).

Dan benarlah Chairil Anwar dalam sebuah lirik puisinya: “Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar”. Tapi, “filosofi” ini memang hanya berlaku dan diperuntukkan bagi mereka yang tak kenal kata menyerah: para pendaki yang tak hanya menyeru (juga mengutuk ketinggian) dari bawah; mereka yang hanya berpidah dari situ ke situ saja dan kerap menyalahkan keadaan sekitarnya hingga berkata, “Betapa nestapa upaya ini, padahal hanya demi meraih ketinggian yang juga tak jelas apa gunanya!”

Tapi lelaki sejati tak mungkin seperti itu, sebab perempuan juga tak sesederhana itu.

Dari atas bukit, bukankah langit seolah dekat. Ada kabut tipis dibelah angin yang lewat. Di situlah agakya ada yang mulai kelihatan jelas: perjuangan bukan soal “diam-diam dan perlahan-lahan dalam menuju sesuatu”; tapi perjuangan adalah, sebagaimana sepenggal lirik dari sajak WS Rendra, pelaksanaan dari kata-kata.

Maka, mulailah menyatakannya–tanpa mengutuk dan merasa bahwa itu salah…[]

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *