Cinta, dalam Perspektif 4.0


Apa yang rasional dan tidak dari cinta, pada era sekarang: revolusi industri 4.0?

Sebagian orang yang disodorkan pertanyaan itu menjawab, "Teknologi telah mengambil peran besar dari pertemuan"—dan saya, yang awalnya sepakat dengan pernyataan itu, kini tak lagi setuju dengan dalih tersebut lantaran teringat postulat sebagian lain orang, yang berbalut pertanyaan tandingan: memangnya, cinta itu rasional?

Buat penyair, atau, katakanlah, sebagian besar dari mereka, cinta adalah produk langit—ia tumbuh bersama penciptaan manusia kedua, yaitu Hawa, sebab kisah ini sering kita dengar: Adam syur, dan berahi, ketika menyaksikan Hawa tidur di dipan surga—itu, konon, menjadi kali pertama ia melihat makhluk "asing" yang mirip dengannya itu—dan momen tersebut sontak melibas semua gundah-sepi dalam diri manusia pertama itu.

Lantas, coba kita geser perbicangannya dengan pertanyaan lanjutan: masih pentingkah perbincangan soal cinta pada era 4.0 bila kisah Adam-Hawa sudah menerang-jelaskan semuanya?

Untuk soal itu, kita bisa serempak dalam koor: "Setuju!"

Memilah-milah penting-tidaknya cinta pada era kiwari, kita memang mesti menatap ke belakang: pada zaman lalu, cinta adalah kata yang bernada azimat: mereka yang mengucapkannya, lunas dari segala pertanyaan berkisar hidup. Cinta mencukupi-menggenapi semuanya, ucap seseorang, meski ia, sesuatu yang bernama cinta itu, tentu saja, juga mengandung paradoksnya sendiri.

Pada masa kini, paradoks itu bernama pengabaian dan penolakan.

Apa Anda pernah menemukan potret-kartun Chairil Anwar, penyair besar kita itu, sedang memegang gadget-nya, sambil merokok, tetapi matanya berlinang air mata?

Satire itu, buat saya, menggelikan dan mengena karena dua hal. Pertama, saya pernah membayangkan Chairil hidup pasa masa sekarang dan ia punya beberapa medsos: dari Twitter hingga Instagram. Ketika Chairil gundah, saya gambarkan ia akan menulis kalimat sedih di Twitter, sementara dalam kondisi senang, pemuda yang koit pada usia 27 itu akan mengunggah foto tersenyum di Instagram. Asumsi saya adalah Chairil juga tak akan lepas dari teknologi apabila ia hidup pasa masa kita ini meski riwayatnya penuh dengan lagak dan pembangkangan.

Kedua, Chairil, dalam pandangan saya, adalah prototipe dari pemuda "perubahan" dan revolusi pada masanya. Kita ingat, ia menulis sajak-sajak terbaiknya yang sampai kepada generasi saat ini, tidak dalam dorongan alih-alih paksaan; ia menolak menjadi budak kesenian meski bidang itu merupakan "lapangan hidup"-nya. Bagi Chairil muda, masa itu, kesenian berarti penciptaan yang bebas, penuh "lompatan ke depan", seraya meninggalkan, menyerap, dan mengembangkan nilai-nilai baik serta berkualitas dari para leluhur dan seniornya di bidang kebudayaan. Dalam pokok itulah satire berupa potret Chairil tadi, buat saya, begitu menohok: sang penyair digambarkan tetap teguh mempertahankan gaya sendiri, tetapi di sisi lain rapuh dalam pembawaan orang kini.

Dua hal tadi, pengabaian dan penolakan, bertaut dalam perawakan Chairil di potret itu: ia menangis untuk sesuatu yang tak kita tahu meski bisa dibayangkan ada banyak hal terjadi di gawainya: pemberitahuan operator bahwa kuota internet segera habis, ditolak oleh gebetan, diabaikan oleh pasangan, dan semacamnya, yang mendasari kemuraman Chairil pada potret tersebut.

Mungkin perlu kita bayangkan lebih jauh, begini: Chairil kagum campur haru serta muak, apabila ia hidup pada masa ini dan masih menjadi legenda kepenyairan, lantaran para epigon-pengekornya lahir beratus orang jumlahnya tiap hari di Instagram—jika itulah media sosial yang ia sedang tekuri pada layar gawai dalam momen di potret tersebut. Ia pun perlu kita bayangkan sedih karena para pengiringnya di lapangan kesusastraan hari ini, di Twitter, menulis sesuatu yang masih menjadi bentuk pengucapan hingga meniru habis gaya hidupnya.

Meninggalkan potret Chairil tadi, satu hal yang tak berubah dari zaman dulu, saya kira, masih bernama penolakan dan pengabaian itu: anak muda, pada masa apa pun, takut ditolak justru lantaran cinta belum diungkapkan. Mungkin hal itu absah saja dalam satu soal bernama asmara, tetapi bukankah hal itu menjemukan—dan karena itu kita setuju bahwa "sejarah yang berulang adalah lelucon?"

Bergerak ke aras lain, masih dalam perspektif 4.0, Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto pada tahun 2017 pernah bilang, "Lima teknologi utama yang menopang pembangunan sistem Industry 4.0, yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human–Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing." Pembicaraan itu jelas soal teknis dan saya mencoba mengais jejak terkait cinta di dalamnya: jika "Internet of Things" dan "Artificial Itelligence" (AI) menjadi patokan revolusi industri terbaru ini, bagaimana lagi anak muda mesti menyikapi persoalan asmara mereka dengan gebrakan besar mode dalam jaringan (daring) alias online yang menyasar hampir semua lini kehidupan mereka?

"Saya tidak pernah pakai dan meng-install aplikasi ojek online," demikian komedian (tunggal) Raditya Dika berbicara dalam sebuah pertunjukannya belum lama ini. Orang ketawa mendengar itu, tetapi sebagian besar penonton layar kacanya, saya kira, tidak. Saya berada di barisan mereka yang tersenyum pahit itu karena menyadari bahwa dengung modernisasi di segala bidang kehidupan lantaran revolusi 4.0 ini telah membawa generasi yang lahir pada 1980-1990an awal kepada kesumiran pilihan: kami mesti ikut dalam arus zaman atau bertahan dengan cara-cara "jadul" dan "konvensional" pada masa lalu?

Jawabannya jelas tak segampang memesan makanan lewat aplikasi ojek online; ada yang mesti ditebus mahal dalam perkara itu, umpamanya penyesuaian diri dengan corak hidup orang sekarang, dan sebagainya.

Apakah dengan demikian generasi kami terlampau memuja masa lalu? Tidak juga, jawabnya. Banyak hal dari masa kini yang penting buat diikuti, tetapi akan lekas ditampik bila itu hanya tren sebentar lalu.

Apa dengan begitu kami bukan lagi bagian dari generasi yang ikut mengambil peran pada masa ini? Tentu tak sesederhana itu. Perkembangan teknologi telah menenggelamkan perhatian ayah-ibu kita ke layar gawai dan cuma lonceng tanda makan siang atau azan dari pengeras suara yang kembali membuat sebuah keluarga modern pada abad ini kembali dari "keluyuran virtual" mereka.

Apa yang rasional dan tidak dari cinta pada era sekarang: revolusi industri 4.0?

Mungkin jawabnya akan diguratkan oleh sejarah: 30an tahun dari sekarang, pada usia ke-100 Republik, saat orang pada masa depan menengok ke belakang dan menemukan betapa ajaib sekaligus norak leluhur mereka, yang hidup pada masa ini akibat industrialisasi teknologi.

Cinta itu, produk langit itu, nasibnya mungkin, mudah-mudahan akan seperti puisi: ia bukan gombal, pseudo-realita, dan karena itu bertahan sepanjang masa sebagai bentuk pengungkapan rasa sayang yang tak mau hilang—tak seperti mixtape, surat cinta, liontin dengan inisial nama pasangan, hingga ukiran nama di pohon setelah piknik senja dengan vespa, yang kini hilang diterpa oleh masa, berikut suasananya.[]



Loading...




[Ikuti Terus Kawula.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar