Calon Manusia Setengah Dewa

Calon Manusia Setengah Dewa

Indonesia telah usai melaksanakan pesta demokrasi. Sore tadi sembari menyimak segenap polemik dan permasalahan pemilu yang diwartakan, acara yang saya saksikan memutar lagu Manusia Setengah Dewa, sebuah lagu dari Iwan Fals yang akrab di telinga masyarakat Indonesia.

Mendengarkan lagu ini menguatkan keresahan saya dan mungkin sebagian besar rakyat Indonesia, mengenai figur-figur “calon” manusia setengah dewa yang jika tak ada aral gendala akan dilantik Oktober nanti.

Menyelisik mosaik-mosaik sejarah terkait manusia setengah dewa, perkara pengultusan individu terhadap kepala negara atau raja di dalam sejarah bukanlah sebuah cerita fiktif. Banyak prasasti maupun peninggalan sejarah dan relik menggambarkan bentuk pemujaan yang dilakukan dengan beragam metode seperti memberikan gelar kehormatan, hingga menyembah laiknya Tuhan/Dewa.

Seperti pada zaman Mesir Kuno, keterangan mengenai penyembahan terhadap firaun (Pharaoh) sering ditemukan pada hieroglif-hieroglif kuno dengan gambar raja yang sedang menyilangkan tangannya di atas mahkota dan rakyat/pelayan yang bersujud menyembah.

Loading...

Hieroglif biasanya menggambarkan sang pharaoh didampingi oleh dewa-dewa Mesir lainnya seperti Osiris atau Anubis sebagai lambang kedewaan sang firaun. Juga sebagai keterangan yang memperjelas kedudukan sang firaun sebagai titisan para dewa, atau mungkin dewa itu sendiri yang wajib disembah dan diimani.

Lain Mesir, lain pula Kebudayaan Hellenic, Makedonia pada masanya memperoleh kegemilangan yang masyhur dibawah pemerintahan Alexander Yang Agung, ia kemudian menobatkan dan mengiklankan dirinya sendiri sebagai anak Zeus dan manusia setengah dewa setelah berhasil mengalahkan Darius III dari Persia pada perang Gaugamela, keberhasilannya memperluas wilayah Makedonia hingga ke India diakui sebagai prestasi dan puncak kegemilangan Makedonia pada saat itu. Dari Selat Dardanella hingga seberang Sungai Indus, rakyat mengelu-elukannya sebagai kaisar pun juga seorang dewa.

Di Prancis, figur kepala negara yang dinobatkan sebagai dewa pun terjadi pada masa Raja Louis XIV, dia digelari ”Le Roi Soleil” atau Raja Matahari. Gelar tersebut, terlepas dari sebuah pemaksaan kehendak ataupun murni keinginan rakyatnya, berbanding lurus dengan kejayaan yang diperoleh Prancis pada masa pemerintahannya. Seolah-olah menguatkan “ketuhanan” Louis XIV itu sendiri dan merupakan suatu dekrit absolut hingga dengan pongahnya sanggup mengatakan “Tuhan seharusnya berterima kasih atas apa yang telah saya lakukan”.

Dinasti Bourbon sendiri akhirnya harus mengakui kenyataan pahit bahwa Tuhan ternyata bersemayam dalam suara-suara rakyat yang selama ini terzalimi, pemakzulan kekuasaan Raja Louis XVI hingga riwayatnya yang harus khatam dipeluk guillotine menjadi karma sekaligus azab dari kesombongannya karena berani ‘menggaruk’ singgasana dan legitimasi Tuhan yang mutlak.

“Tegakkan hukum, setegak-tegaknya

Adil dan tegas, tak pandang bulu.

Pasti kuangkat engkau, menjadi manusia setengah dewa”

Ada kegetiran yang tertangkap dari potongan bait ini. Begitu sukarnya berlaku adil hingga siapapun yang bisa mewujudkannya, merupakan sosok yang sangat pantas untuk disembah dan dipuja. Sebuah satire mungkin, bahwa ternyata manusia pada hakikatnya adalah tempat segala salah dan lalai, hingga keadilan mutlak hanyala kepada Tuhan bermuara, kemungkinan pesan seperti ini yang saya tangkap.

“Vox populi vox dei” sebuah semboyan yang konon digaungkan oleh Alcuin dalam suratnya kepada Maharaja Charlemagne yang bebal, hingga kini masih tetap bergema dengan hambar menelusuri sejarah-sejarah kedaulatan rakyat dalam peradaban dunia.

Semoga, siapapun nantinya yang terpilih menjadi manusia setengah dewa, entah “presiden kami yang baru” ataupun “presiden kami yang lalu”, sekiranya mampu mendengar suara Tuhan yang bersemayam dalam lirih-lirih keluh rakyat yang mendamba keadilan.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *