Asmara, Mahasiswi, dan Bunuh Diri

Asmara, Mahasiswi, dan Bunuh Diri

Elpiana Ambarita dan Mastri Lidyana setidaknya punya tiga kesamaan: mahasiswi, mengakhiri hidup di usia 21 tahun, dan itu semua terjadi lewat sebuah “prosesi” bernama bunuh diri. Bila harus menambah daftar lain: mereka sama-sama mengembuskan napas terakhir di kediaman masing-masing, tepatnya di rumah kontrakan/kamar kos.

Perbedaannya: Elpiana tewas pada tanggal 17 Mei 2015, sedangkan Mastri berpulang pada 3 Oktober 2016.

Dua peristiwa nahas itu, konon, berangkat dari titik kulminasi yang sama: asmara. Spesifiknya, kedua mahasiswi ini sama-sama “terluka”. Pengakuan kawan-kawannya, Elpiana memutuskan untuk mengakhiri hidup karena kisah cintanya yang kandas, sementara motif Mastri disebut-sebut lebih mengarah kepada perasaan cemburu usai menerima kabar bahwa sang pacar “jalan” bersama mantannya.

Namun, benarkah pokok persoalannya hanya asmara?

Jawabannya: mungkin atau barangkali –mengingat keduanya masih teramat muda untuk menimbang perasaan sendiri apatah lagi lawan jenis masing-masing. Ditambah pula tugas-tugas perkuliahan yang kerap memicu stres, desakan-desakan halus dari orangtua mengenai “betapa enaknya kalau sudah jadi sarjana”, dan sejumlah beban-pikiran lain, tak heran bila keduanya memutuskan jalan kematian yang dalam ajaran agama itu dipandang sebagai laku sesat lagi menyesatkan.

Fenomena bunuh diri di kalangan mahasiswi itu sendiri memang sudah sering terjadi. Tak hanya mahasiswi, memang, para mahasiswa pun kerap memutuskan untuk melakukan hal tersebut dengan sejumlah dalih yang tidak jauh berbeda. Hanya saja, desakan-desakan halus —sebagaimana disebutkan tadi— sering jadi “modus” utama atas aksi nekat tersebut. Namun, menariknya, kasus-kasus bunuh diri itu pun berlangsung dengan cara yang sama: gantung diri.

Beruntung, Indonesia bukan Jepang yang memiliki tempat khusus bagi “ritus” kuno tersebut; hutan Aokigahara. Meski di tanah air, konon, juga banyak “wilayah”serupa, tapi bisa dipastikan bahwa eksponen terbanyak dari kasus bunuh yang terjadi di tempat itu bukanlah mahasiswa, melainkan —jika mesti digeneralisasin— orang-orang dewasa yang beban-pikiran dan derita perasaannya lebih “menghempaskan” lagi.

Akan tetapi, menimbang niat bunuh diri sering kali bisa mampir kepada siapa saja, pengawasan dan “penanggulan dini” (tidak bisa tidak) mesti lekas dilakukan. Terutama bagi mahasiswa, penanggulan paling awal itu bisa berupa “saling berbagi keluh kesah” dan mulai berpikir bagaimana cara menanggulanginya tanpa harus larut dalam duka selanjutnya, ditambah dengan cara-cara lain yang lebih “meneduhkan”, tentu, seperti ikut pengajian, kursus kepribadian, yang keseluruhannya berguna bagi perkembangan kejiwaan.

Sebab, sampai kapan akan terus menyalahkan asmara atas ketidakpastian hari-hari selanjutnya; hingga bila sanggup menahan sesak karena perasaan cinta yang (mau tak mau) mesti disebut “semenjana” itu; sampai hatikah terus menyusun kemungkinan-kemungkinan mengakhiri hidup sementara kehidupan itu sendiri belum lagi tertempuh jauh?

Di hadapan cinta, “bunuh diri” terjadi berulang kali, tapi “kelahiran kembali” karena perasaan itu —putus asa, canggung, menderita, dll.- memang sangat jarang terjadi. Atau mungkin karena belakang ini (per)cinta(an) memang lumayan membosankan?

Seharusnya Elpiana Ambarita dan Mastri Lidyana menjawab pertanyaan itu.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *