Antara Genius dan Pintar

Antara Genius dan Pintar

Yang pintar menangkal yang bodoh; tapi yang genius mengatasi keduanya.

Banyak orang menganggap kepintaran itu segalanya, dan nilai-nilai yang tercetak di lembaran hasil ujian adalah ukurannya. Kesimpulannya, orang pintar adalah ia yang “bernilai”.

Tapi apa yang “bernilai” itu? Jika pun ada, sudah tepatkah cara mengukur atau parameternya?

Nilai tidak lahir dengan sendirinya di bawah kolong langit ini; ia diciptakan, ia diadakan. Hitungannya bisa satuan, sebagaimana yang terdapat di dunia pendidikan. Sedang di masyarakat, di kehidupan, nilai lahir dari sebuah garis kesepakatan. Barulah kemudian ia terakumulasi dan terus diajarkan.

Tapi dari nilai itu, ada yang selalu luput dibicarakan: kerendahan hati. Penilaian dan yang dinilai bisa siapa saja, kepada apa saja, asal sikap rendah hati yang jadi kunci. Inilah yang luput saat ini.

Sebab orang pintar itu kaku, kata seorang kawan. Ia, si pintar itu, biasanya dekat, dan lekat, dengan buku. Hidupnya penuh teori, hapalan-hapalannya berisi rumus-rumus yang membosankan. Jika berjumpa yang seperti ini, lanjut kawan tadi, siap-siap menutup telinga dan kalau perlu sekalian obat sakit kepala.

Miris membayangkan orang seperti ini; tapi sayangnya, mereka ada di sekitar kita: mereka yang lupa jika kehidupan, baik sedih maupun senang, selalu mengamanatkan agar kita rendah hati.

Tak perlu kacamata setebal kaca nako ia pakai agar segera dapat diidentifikasi (atau didakwa?) sebagai orang pintar, orang kutu buku. Ada banyak yang tak memakai kaca mata namun “berkerabat” dengan literatur. Tapi ini bukan tentang penampilan. Ini soal “yang sebentar lagi akan ditampilkan”.

Yang bodoh akan bicara kenapa politik membosankan; yang pintar akan berusaha memantaskan dirinya dalam obrolan yang membosankan itu; yang genius malah membuat keduanya yang tampak membosankan.

Tapi yang genius tahu bagaimana “menempatkan”; bukan “ditempatkan”. Mungkin inilah sebabnya banyak orang yang tergolong genius menolak kerja di pemerintahan; jadi PNS. Meski, tak semua PNS itu bodoh. Setidaknya, mereka pintar; namun belum sahih disebut genius.

Gie, mahasiswa kurus dengan jas kedodoran ketika menjumpai presiden Soekarno itu, konon pernah ditawari jabatan empuk oleh “Bung Besar” tersebut. Gie diminta bekerja di Museum Nasional. Sebagai “orang sejarah”, tentu ini pekerjaan yang didambakan. Tapi Gie menolak; ia punya dua peran. Ia juga aktivis pergerakan mahasiswa. Ia harus berjarak dari kekuasaan.

Lantas, dengan penolakan itu, bolehkah Gie disebut sebagai genius?

Yang bodoh menampik “apa”; yang pintar menampik “siapa”; yang genius menerima keduanya.

Gie tak menampik tawaran Soekarno. Ia hanya tak ingin dengan jabatan itu kemudian ke-kritis-an-nya perlahan terkikis. Gie tahu, rasa segan akan sebuah pertolongan, suatu hari, akan membuatnya takut mengungkap kebenaran. Meski, kita tahu, Gie bukan orang yang seperti itu. Ia masih kritis–meski dimanfaatkan segelintir orang untuk mendirikan rezim Soeharto.

“Kawan-kawan” Gie tergolong pintar: mereka membangun tatanan baru dengan duduk di pemerintahan baru. Yang bodoh adalah yang masih menunggu akan ke mana badannya di bawa. Tapi yang melawan rezim, adalah ia yang genius. Ia tahu ketimpangan adalah pedang yang terhunus untuk membunuh kaum jelata.

Tapi Gie absen; ia mati muda. Tapi ia genius; ia membuktikan perkataannya.

Yang bodoh mendambakan kaya; yang pintar selalu merasa sudah kaya; dan keduanya menumpuk, baik harta maupun dirinya sendiri. Mereka hidup bergerombol; mereka takut kesepian.

Yang genius berjarak dari kekayaan. Gie, juga Tan Malaka, sudah membuktikannya; mereka terasing. Mereka miskin dan kesepian. Tapi mereka genius. []

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *