Transaksi UMKM BISA Ekspor 2025 Tembus Rp2,27 Triliun, Produk Mamin Mendominasi

Senin, 09 Februari 2026 | 10:26:12 WIB
Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Budi Santoso. [Foto: Istimewa]

JAKARTA – Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan bahwa program Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor) telah memfasilitasi 1.217 pelaku usaha dengan nilai transaksi mencapai 134,87 juta dolar AS atau berkisar Rp2,27 triliun selama tahun 2025.

"Capaian ini membuktikan UMKM Indonesia punya kesempatan bersaing untuk diterima di pasar internasional," ujar Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Budi Santoso, dalam keterangannya di Jakarta, Senin (9/2/2026).

Keseluruhan nilai transaksi tersebut mencakup purchase order senilai 57,45 juta dolar AS serta potensi transaksi sebesar 77,42 juta dolar AS.

Selama tahun 2025, telah diselenggarakan 622 kegiatan penjajakan bisnis atau business matching, yang meliputi 399 sesi pitching (presentasi UMKM kepada perwakilan perdagangan RI di luar negeri) dan 223 pertemuan dengan pembeli dari mancanegara.

Sesi pitching serta business matching sepanjang 2025 paling banyak melibatkan mitra dari Uni Emirat Arab, kemudian diikuti oleh Hungaria, Hong Kong, Malaysia, serta Korea Selatan.

Produk makanan dan minuman menjadi yang paling dominan dalam kegiatan pitching dan business matching dengan angka 29,99 persen.

Posisi selanjutnya diisi oleh produk perkebunan (14,91 persen), furnitur dan dekorasi rumah (10,94 persen), tekstil dan produk tekstil atau fesyen (10,94 persen), serta produk perikanan (5,63 persen).

Selain agenda business matching reguler yang dilaksanakan setiap bulan, UMKM BISA Ekspor turut memprakarsai business matching tematik guna memperkuat fasilitasi UMKM yang bersifat inklusif.

Business matching tematik Disabilitas dilaksanakan pada 26-29 September 2025.

Agenda ini mempertemukan UMKM dengan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Santiago di Cile, ITPC Osaka di Jepang, Atase Perdagangan RI Berlin di Jerman, serta Atase Perdagangan RI Bangkok di Thailand guna memasarkan produk kerajinan dan fesyen.

Kemendag pun menggelar dua sesi business matching dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional (Women’s Day) 2025.

Kedua sesi tersebut melibatkan perwakilan perdagangan RI di Hungaria dan Inggris dengan menampilkan produk camilan, fesyen, serta batik.

"Business matching tematik mendorong partisipasi UMKM penyandang disabilitas dan perempuan pelaku usaha agar produk unggulannya dapat dikenal dan diterima di pasar internasional. Upaya ini adalah komitmen memastikan seluruh pelaku UMKM memiliki kesempatan yang setara untuk mengakses pasar global," jelas Budi.

Di sisi lain, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi menyebutkan bahwa program UMKM BISA Ekspor akan terus diperkokoh.

Salah satu langkahnya adalah dengan melibatkan kedutaan besar RI serta konsulat jenderal RI di berbagai negara tujuan ekspor secara aktif.

Kemendag pun telah merancang rekomendasi 178 pameran internasional yang bisa digunakan oleh para pembina UMKM sebagai rujukan dalam mendorong produk binaan mereka ke pasar ekspor pada tahun 2026.

"Para pembina UMKM juga mengharapkan masukan yang lebih intensif dari perwakilan perdagangan RI menyangkut kesesuaian produk UMKM dengan karakteristik pasar negara tujuan," kata Puntodewi.

Terkini