TBS Energi Rampungkan Transisi ke Bisnis Rendah Karbon

Selasa, 10 Maret 2026 | 11:45:03 WIB
TBS Energi Utama. [Foto: Dok. TBS Energi Utama]

JAKARTA – PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) menyelesaikan fase penting dalam transformasi bisnisnya pada 2025 melalui penataan ulang portofolio secara menyeluruh menuju sektor rendah karbon.

Langkah strategic repositioning tersebut dilakukan untuk memperkuat fondasi keuangan sekaligus membangun struktur bisnis yang lebih tangguh dan memiliki daya saing global.

"Setelah strategic repositioning pada fondasi bisnis kami di 2025, kami antusias menyambut tahun 2026 dan tahun-tahun berikutnya. Keputusan penyesuaian struktural diambil dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang, guna mengakselerasi pertumbuhan pada tiga pilar bisnis masa depan Perseroan - pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik- yang merupakan layanan esensial dengan potensi pertumbuhan yang kuat di Indonesia dan mancanegara," ujar Direktur TBS, Juli Oktarina, dalam keterangan tertulis dikutip pada Selasa (10/3/2026).

Sepanjang 2025, TBS melakukan penataan portofolio bisnis secara menyeluruh melalui langkah strategic repositioning untuk memperkuat struktur keuangan dan menciptakan model bisnis yang lebih resilien.

Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas neraca perusahaan sekaligus mengalihkan fokus usaha ke sektor dengan profil pendapatan yang lebih stabil dan valuasi jangka panjang yang lebih tinggi.

Dari sisi operasional, perusahaan tetap mencatat kinerja yang solid dengan EBITDA Disesuaikan mencapai USD47,2 juta.

Posisi kas juga tercatat kuat sebesar USD102,3 juta atau meningkat 15% dibandingkan 2024, mencerminkan disiplin eksekusi perusahaan di tengah perubahan komposisi portofolio bisnis.

Tonggak strategis lain pada 2025 adalah rampungnya akuisisi Sembcorp Environment yang kini beroperasi dengan nama Cora Environment.

Akuisisi tersebut memperkuat posisi TBS sebagai salah satu pelaku utama dalam sektor pengelolaan limbah di Singapura sekaligus memperluas kapasitas aset perusahaan untuk mendukung pertumbuhan pendapatan jangka panjang.

Kontribusi pendapatan dari bisnis pengelolaan limbah tercatat mencapai USD155,4 juta atau sekitar 41% dari total pendapatan perusahaan.

Sementara itu, segmen pertambangan dan perdagangan batu bara mencatat pendapatan USD194,6 juta atau sekitar 51% dari total pendapatan, turun cukup tajam dibandingkan kontribusi 81% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski masih mencatat EBITDA positif, perusahaan membukukan rugi bersih sebesar USD162 juta pada 2025.

Kerugian tersebut dipengaruhi oleh penurunan harga batu bara global serta kerugian non-kas yang tidak berulang dari divestasi aset Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebesar USD97 juta sebagai bagian dari strategi transisi menuju bisnis rendah karbon.

Juli menambahkan bahwa strategi diversifikasi usaha menjadi faktor penting untuk menjaga ketahanan perusahaan di tengah volatilitas pasar energi global.

“Strategi bisnis kami saat ini memberikan fleksibilitas bagi Perseroan untuk tetap tumbuh, di mana sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik justru menjadi peluang krusial bagi ketahanan energi nasional. Melalui inovasi seperti skema rent-to-own pada ekosistem motor listrik Electrum, TBS tidak hanya memitigasi dampak fluktuasi harga minyak bagi para pekerja sektor informal, tetapi juga memperkokoh fondasi bisnis hijau untuk memastikan keberlanjutan ekonomi jangka panjang”.

Transformasi tersebut juga selaras dengan peta jalan TBS2030 yang menargetkan netral karbon pada 2030.

Perusahaan telah menurunkan emisi karbon melalui divestasi dua unit PLTU yang sebelumnya menyumbang sekitar 86% emisi portofolio pembangkit atau sekitar 1,4 juta ton CO₂ per tahun berdasarkan profil emisi 2024.

Selain itu, perusahaan juga meluncurkan Climate Transition Plan pada November 2025 sebagai panduan dekarbonisasi operasional dan portofolio bisnisnya.

Terkini