JAKARTA – Bisnis galangan kapal nasional semakin terbuka lebar untuk perusahaan swasta. Hal itu terjadi di tengah pergeseran fokus proyek badan usaha milik negara (BUMN) ke PT PAL Indonesia.
Pelaku industri menilai kondisi ini justru menciptakan ruang bagi galangan kapal swasta untuk memperkuat peran di pasar komersial.
PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) melihat permintaan jasa galangan kapal saat ini masih solid. Hal ini tercermin dari antrean pembangunan kapal baru (backlog) yang telah terisi hingga beberapa tahun ke depan, baik di pasar global maupun domestik.
“Samudera menilai industri galangan kapal saat ini memiliki permintaan yang baik, ditandai dengan antrean operasional (backlog) pembangunan kapal baru hingga beberapa tahun ke depan di pasar global maupun domestik,” kata manajemen Samudera Indonesia, dikutip pada Senin (6/4/2026).
Peluang Strategis dan Ekspansi
Di tengah dominasi pemain besar seperti PT PAL yang menggarap proyek kapal BUMN, SMDR menilai terdapat peluang strategis bagi galangan swasta untuk menggarap segmen komersial.
Peluang tersebut mencakup jasa pemeliharaan (docking), perbaikan (repair), hingga pembangunan kapal baru yang mendukung efisiensi distribusi logistik nasional.
Untuk menangkap peluang tersebut, Samudera melakukan ekspansi dengan membangun Galangan Samudera Madura. Fasilitas ini dilengkapi graving dock, jetty, floating area, serta sarana pendukung seperti workshop, hangar, dan pengelolaan limbah.
Proyek ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas layanan sekaligus menyasar potensi pasar di wilayah timur Indonesia.
Kapasitas Industri dan Sinergi
Ketua Umum Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo), Anita Puji Utami, mengatakan bahwa industri galangan kapal dalam negeri sejatinya masih memiliki kapasitas untuk mengerjakan proyek pembangunan kapal baru.
“Artinya, secara kapasitas industri masih ada ruang untuk mengerjakan proyek baru. Ini menjadi peluang pertumbuhan di tahun ini,” ujar Anita.
Menurut Anita, jika volume proyek BUMN terlalu besar dan terpusat di satu titik, maka berpotensi menimbulkan bottleneck produksi. Karena itu, ia mendorong adanya sinergi antara galangan kapal BUMN lain dengan sektor swasta.
“Bisa saja nantinya dikerjakan secara kolaboratif, misalnya melalui pembagian blok produksi ke galangan swasta. Ini justru bisa menciptakan ekosistem industri yang lebih sehat dan kompetitif,” jelasnya.
Ia menambahkan, potensi pertumbuhan industri ini akan semakin besar jika didukung kebijakan pemerintah, terutama dalam bentuk insentif.
“Kalau ini didorong, bukan hanya galangan yang tumbuh, tetapi juga industri komponen dalam negeri sebagai bagian dari hilirisasi. Ini penting untuk kemandirian sektor maritim nasional,” katanya.