KAWULA.ID — Perhatian industri kendaraan listrik di Amerika Utara dinilai terlalu terpusat pada SUV dan pikap listrik, padahal mayoritas pengendara dunia justru bergantung pada motor 125cc. Pengamat yang menekuni sektor ini hampir dua dekade menilai segmen motor kecil justru paling siap dielektrifikasi. Sayangnya, pasar motor listrik Barat melompat dari sepeda listrik ke model premium.
Diskursus kendaraan listrik di Amerika Utara nyaris selalu berputar pada SUV dan pikap. Setiap pekan muncul teaser dari perusahaan rintisan yang menjanjikan keluarga mobil atau truk baru. Deretan model seperti Slate, TELO, dan sejumlah nama lain sudah memancing antusiasme, meski hampir semuanya masih menyisakan banyak hal untuk dibuktikan.
Harapan agar mereka berhasil tetap ada. Kendaraan listrik yang lebih terjangkau memang dibutuhkan. Namun setelah hampir dua dekade mengikuti sektor ini dan berkeliling dunia melihat bagaimana orang sebenarnya bepergian, muncul pertanyaan: apakah industri sedang mengejar hadiah yang salah?
Motor 125cc, Kendaraan Default Sebagian Besar Dunia
Pembaca Barat kerap menganggap sedan sebagai kendaraan yang "normal" dan "masuk akal". Anggapan itu luruh dalam lima menit begitu menyusuri jalan di Asia. Honda Click dan CG125, Hero Splendor, Yamaha NMAX dan YBR125, serta berbagai motor bermesin kecil lain memenuhi ruas jalan.
Motor-motor itu mengantar pekerja ke kantor, pelajar ke sekolah, keluarga ke meja makan, dan segala jenis barang bawaan. Mereka berperan sebagai van pengantar, mobil komuter, kendaraan belanja, transportasi keluarga, sekaligus truk kerja. Setiap hari, ratusan juta orang bergantung pada motor kecil.
Di tempat seperti Filipina, tak perlu waktu lama untuk menyadari bahwa yang ada bukanlah "budaya motor". Itu murni budaya transportasi. Orang mengendarainya karena masuk akal secara ekonomi dan praktis.
Motor Kecil Justru Paling Mudah Dielektrifikasi
Melimpahnya motor kecil membuat kondisi pasar motor listrik saat ini terasa janggal. Jika ada satu kelas kendaraan bensin yang sudah bisa digantikan baterai hari ini, kelas itu adalah motor 125cc.
Tuntutan teknisnya rendah. Tenaga yang dihasilkan umumnya hanya 10-15 hp (8-11 kW). Kecepatan jelajah nyaman berada di kisaran 45-60 mph (70-100 km/h). Jarak tempuh harian sebagian besar pengendara relatif pendek, dihitung dalam puluhan mil, bukan ratusan.
Motor listrik modern dengan baterai 4-6 kWh mampu menuntaskan tugas yang sama. Akselerasi lebih halus, operasi lebih senyap, perawatan lebih murah, dan biaya operasional jauh lebih rendah. Menggantikan pikap tugas berat yang menarik trailer ternak melintasi Montana jelas berat; menggantikan motor komuter 125cc sudah berada dalam jangkauan teknologi baterai sekarang.
Pasar Barat Melewati Segmen Ini
Alih-alih menggarap kelas menengah, pasar motor listrik Amerika Utara berkembang ke arah yang aneh. Sepeda listrik hadir dan berguna untuk komuter perkotaan. Setelah itu, lompatannya langsung ke motor listrik premium seharga 15.000-25.000 dolar AS.
Bagian tengah yang praktis justru lama kosong. Kabar baiknya, kondisi itu mulai berubah. ONYX RCR menjadi favorit komunitas karena membuktikan ada permintaan nyata terhadap transportasi listrik ringan berkarakter motor tanpa performa superbike.
Ryvid Anthem melangkah lebih jauh dengan menambah kemampuan melaju di jalan bebas hambatan, tetap ramah pengguna dan relatif terjangkau. LiveWire S4 Honcho juga menjadi langkah menuju motor listrik yang lebih ringan dan praktis, bukan mesin premium kebesaran. Infinite Machine Olto, meski berada di kategori agak berbeda, menunjukkan minat tumbuh pada kendaraan roda dua listrik urban yang mengutamakan fungsi transportasi.
Perusahaan-perusahaan itu membuktikan satu hal penting: orang tidak selalu butuh 100 tenaga kuda. Banyak yang sekadar butuh kendaraan untuk berpindah.
Salah Sasaran Selama Satu Dekade
Pikap listrik punya tempatnya. SUV listrik juga. Namun upaya rekayasa selama satu dekade terakhir tercurah pada elektrifikasi kendaraan penumpang paling boros energi di jalan raya.
Di saat bersamaan, satu kelas kendaraan bensin paling efisien yang pernah diciptakan manusia nyaris diabaikan. Motor 125cc konvensional sudah mampu mencapai konsumsi bahan bakar mendekati atau melampaui 100 mpg. Ironinya, kelas inilah yang paling siap dialihkan ke listrik, dan justru paling sedikit mendapat perhatian dari industri Barat.