JAKARTA – Banyak orang beranggapan bahwa kesepian hanya dirasakan oleh mereka yang melajang atau hidup menyendiri.
Padahal, perasaan ini pun dapat muncul dalam hubungan romantis, termasuk yang telah terjalin lama. Psikolog asal New York, Niloo Dardashti, menyebut kondisi ini sebagai fenomena yang cukup lazim ditemukan.
“Sangat umum orang dalam hubungan jangka panjang merasa kesepian,” ujarnya, dilansir TIME, Sabtu (28/3/2026).
Menurutnya, rasa kesepian dapat timbul karena ada aspek yang tidak berjalan harmonis dalam hubungan atau akibat seseorang berharap pasangannya mampu mengisi kekosongan di dalam dirinya.
Lantas, apa saja faktor penyebab seseorang tetap merasa kesepian meski sudah memiliki pasangan?
Penyebab Seseorang Merasa Kesepian Meski Punya Pasangan
1. Pudarnya Koneksi Emosional dalam Hubungan
Salah satu pemicu utama kesepian adalah hilangnya kedekatan emosional. Seiring berjalannya waktu, pasangan bisa saja merasa semakin menjauh satu sama lain, walaupun secara fisik tetap berdampingan.
Terapis pernikahan dan keluarga, Gary Brown, menjelaskan bahwa kondisi ini sangat mungkin dialami dalam hubungan mana pun.
“Bahkan dalam hubungan terbaik, ada masa ketika salah satu atau kedua pasangan mulai menjauh dan merasa asing satu sama lain,” tutur Brown.
Saat koneksi emosional melemah, komunikasi biasanya ikut terganggu. Hal ini mengakibatkan individu merasa tidak lagi dipahami atau didukung, yang pada akhirnya memicu kesepian.
Perasaan ini sering kali tidak disadari sejak awal, namun perlahan berkembang seiring berkurangnya interaksi yang bermakna. Tanpa upaya perbaikan, jarak emosional tersebut bisa semakin melebar.
2. Sulit Terbuka dan Menunjukkan Kerentanan
Kesepian juga dapat muncul saat seseorang tidak sepenuhnya terbuka kepada pasangannya. Menyimpan perasaan, pikiran, atau pengalaman pribadi dapat menciptakan jarak emosional yang tak kasat mata.
Psikolog klinis Jenny Taitz mengungkapkan bahwa kurangnya kerentanan menjadi salah satu faktor krusial.
“Salah satu penyebab kesepian adalah tidak membicarakan perasaan atau tidak berbagi hal-hal yang mungkin terasa berisiko untuk diungkapkan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa seseorang bisa saja merasa dekat secara fisik, namun tetap kesepian karena pasangannya tidak benar-benar mengenal sisi terdalam dirinya.
Kondisi ini membuat hubungan terasa dangkal meski tampak baik-baik saja dari luar. Padahal, kedekatan emosional sejati hanya dapat dibangun melalui keterbukaan dan kejujuran.
3. Terlalu Sering Membandingkan Hubungan dengan Media Sosial
Di era digital, media sosial turut berperan memicu rasa kesepian. Melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih bahagia dapat menimbulkan ketidakpuasan terhadap hubungan sendiri.
Menurut Taitz, perbandingan ini mampu menciptakan jarak emosional.
“Saat kamu membandingkan hubungan dengan yang ada di media sosial, kamu menciptakan ‘jarak yang tidak menyenangkan’ antara kamu dan pasangan,” ujarnya.
Sebagai contoh, seseorang mungkin menganggap hubungannya biasa saja setelah melihat pasangan lain merayakan momen spesial secara mewah.
Perasaan ini dapat berkembang menjadi ketidakpuasan, meski sebenarnya hubungan yang dijalani sudah cukup sehat. Semakin sering terpapar perbandingan, semakin besar potensi munculnya kesepian.
4. Kesepian Berasal dari Dalam Diri
Dalam beberapa kasus, kesepian tidak sepenuhnya disebabkan oleh hubungan, melainkan berakar dari dalam diri individu.
Dardashti menegaskan banyak orang berharap pasangan dapat menghilangkan rasa kesepian yang sudah ada sebelumnya, namun harapan ini sering kali tidak realistis.
“Orang berharap pasangan bisa menjadi solusi atas rasa kesepian yang mereka miliki, tetapi biasanya itu tidak terjadi,” ujarnya.
“Tidak ada seseorang yang bisa sepenuhnya menghilangkan rasa kesepian tersebut,” lanjut Dardashti.
Penelitian juga menunjukkan bahwa kesepian dapat menjadi sifat yang dipengaruhi faktor genetik atau pola hidup sebelumnya. Seseorang mungkin memang lebih rentan merasa kesepian, terlepas dari kondisi hubungannya.
Jika hal ini terjadi, penting untuk melakukan refleksi diri dan memahami pola emosi yang dimiliki. Bantuan profesional seperti terapi juga dapat menjadi langkah untuk mengatasi akar masalah tersebut.