Kemenkes Rilis Daftar 5 Penyakit Terbanyak di Indonesia Sepanjang 2025, ISPA Masih Mendominasi

Kamis, 01 Januari 2026 | 10:32:53 WIB
Ilustrasi pasien ISPA anak. [Foto: NET]

JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merilis daftar lima penyakit yang paling sering diderita warga Indonesia sepanjang tahun 2025 merujuk pada data sistem surveilans nasional.

Data tersebut memperlihatkan bahwa penyakit infeksi masih menjadi beban utama kesehatan masyarakat, khususnya pada daerah dengan populasi padat serta memiliki kendala dalam hal sanitasi.

Penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) berada di urutan pertama, diikuti oleh diare akut, influenza like illness (ILI), suspek demam tifoid, dan pneumonia.

Berikut ini adalah rincian mendalam mengenai penyakit tersebut beserta daerah dengan temuan kasus paling banyak.

1. ISPA

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) membukukan 14.506.235 kasus selama 2025 dan menjadi gangguan kesehatan dengan angka tertinggi di tingkat nasional.

Pihak Kemenkes mencatat bahwa lonjakan kasus ISPA sering terjadi di musim penghujan, saat faktor suhu dan kelembapan mempermudah penyebaran virus serta bakteri pernapasan.

Selain itu, merosotnya cakupan imunisasi dianggap memperparah kerentanan kelompok berisiko tinggi seperti anak-anak dan lansia.

Provinsi dengan angka ISPA tertinggi:

1. Jawa Barat: 2.527.302 kasus
2. Jawa Tengah: 2.292.627 kasus
3. DKI Jakarta: 1.845.882 kasus
4. Jawa Timur: 1.337.901 kasus
5. Banten: 827.325 kasus

2. Diare Akut

Pada urutan kedua, diare akut mencatat total sebanyak 3.774.195 kasus di sepanjang 2025. Berbeda dengan ISPA, penyakit diare tidak memperlihatkan adanya pola musiman yang kentara.

Analisis Kemenkes menunjukkan bahwa tingginya angka diare lebih berkorelasi dengan akses terhadap sanitasi, ketersediaan air bersih, serta aspek higienitas makanan dan minuman.

Daerah dengan pemukiman padat dan masalah sanitasi masih menyumbang angka kasus yang besar, terutama di kawasan Pulau Jawa.

Provinsi dengan angka diare akut tertinggi:

1. Jawa Barat: 667.709 kasus
2. Jawa Tengah: 542.065 kasus
3. Jawa Timur: 512.924 kasus
4. DKI Jakarta: 317.688 kasus
5. Banten: 228.179 kasus

3. Influenza Like Illness (ILI)

Sepanjang tahun 2025, influenza like illness (ILI) tercatat mencapai 1.692.642 kasus. Dalam kurun beberapa pekan terakhir, grafik kasus dilaporkan mengalami fluktuasi, namun tetap menunjukkan tren peningkatan di skala nasional.

Salah satu aspek yang menjadi sorotan adalah minimnya cakupan vaksinasi influenza, yang berisiko memperluas rantai penularan di tengah warga.

Provinsi dengan angka ILI tertinggi:

1. Jawa Timur: 448.894 kasus
2. Jawa Barat: 233.156 kasus
3. Jawa Tengah: 229.439 kasus
4. Sumatera Utara: 196.572 kasus
5. Aceh: 63.943 kasus

4. Suspek Demam Tifoid

Temuan kasus suspek demam tifoid mencapai angka 914.132 kasus selama tahun 2025. Kecenderungan peningkatan sudah mulai terdeteksi sejak pengujung 2024 dan kembali menguat pada pertengahan 2025.

Kemenkes mengidentifikasi bahwa rendahnya kepatuhan terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), terutama kebersihan area lingkungan, keamanan pangan, serta rutinitas mencuci tangan, masih menjadi pemicu utama.

Provinsi dengan angka suspek tifoid tertinggi:

1. Jawa Barat: 182.245 kasus
2. Jawa Timur: 179.950 kasus
3. Jawa Tengah: 168.952 kasus
4. DKI Jakarta: 59.201 kasus
5. Banten: 49.299 kasus

5. Pneumonia

Pneumonia menempati posisi kelima dalam daftar penyakit dengan jumlah penderita terbanyak di Indonesia sepanjang 2025, dengan total 753.712 kasus yang terdata secara nasional.

Kemenkes memaparkan bahwa kenaikan kasus di awal tahun ini dipicu oleh meningkatnya kemampuan unit pelapor dalam mendeteksi sekaligus mendata kasus pneumonia secara lebih maksimal.

Secara historis, grafik pneumonia di tanah air menunjukkan relasi yang kuat dengan faktor cuaca dan musim. Pada 2023, lonjakan kasus mulai muncul sejak minggu ke-34 seiring dampak fenomena El Nino.

Memasuki permulaan 2024, kenaikan kembali terjadi yang dihubungkan dengan musim hujan, suatu kondisi yang lazim mempercepat transmisi infeksi saluran pernapasan.

Pola tersebut berlanjut pada pengujung 2024 hingga awal 2025, saat kasus pneumonia kembali merangkak naik sejalan dengan intensitas hujan.

Selama 2025, Kemenkes mendata tren kasus pneumonia bersifat tidak menentu, dengan kenaikan yang cukup mencolok pada rentang minggu ke-29 sampai minggu ke-36.

Provinsi dengan angka pneumonia tertinggi:

1. Jawa Barat: 142.092 kasus
2. Jawa Tengah: 113.844 kasus
3. Jawa Timur: 100.936 kasus
4. DKI Jakarta: 70.074 kasus
5. Banten: 48.466 kasus

Besarnya angka kasus pada lima penyakit tersebut menjadi pengingat krusial akan pentingnya langkah pencegahan dini, mulai dari menjaga kebersihan area sekitar, memastikan keamanan air dan pangan, hingga melengkapi status imunisasi.

Penyakit yang tergolong umum tetap berpotensi menjadi ancaman serius apabila tindakan preventif tidak dijalankan secara konsisten, terutama pada wilayah dengan kepadatan penduduk yang tinggi.

Terkini