Agama Itu Sama, tetapi Berbeda

Agama Itu Sama, tetapi Berbeda
Loading...

Bicara agama, biasanya dibagi menjadi beberapa irisan; agama tidak ada yang sama, meski memiliki akar historis (hampir) sama, dan bahwa agama yang tidak sama itu lazim disebut plural.

Dalam konteks memahami hal tersebut, selalu berkaitan dengan mencari-cari alasan rasional. Namun, pada akhirnya menyerempet ke pembahasan mengenai arti dan makna dari kebenaran. Dari sini, konteks memahami tentang beragama; perlu diperhatikan. Semisal terlampau eksklusif tentu tidak baik, terlebih terlalu pluralis.

Masa kini, kita tengah dihadapkan pada suatu metode mengenai toleransi dan perdamaian; pluralisme agama, yakni alih-alih memandang bahwa semua agama adalah sama, karena menuju yang paling sakral, paling paripurna, The High SupremeThe High Intellect; Tuhan. Singkatnya, semua agama itu sama.

John Hick adalah seorang yang pertamakali mengajukan pandangan itu dalam bukunya The Encyclopedia of Religion. Hick mengadaptasi perkataan Jalaluddin al-Rumi “The light is not different, (though) the lamp has become different.”, yang kemudian Hick mengatakan justru menjadi sesuatu yang di luar dari konteks; The lamps are different, but the Light is the same.

Pandangan pluralisme agama menentang eksklusivitas dari sebuah agama yang berujung pada pendapat bahwa semua agama adalah sama. Pluralisme agama merupakan antitesis yang mengubah pandangan bahwa agama-agama inklusif, universal baik dalam maupun luar, lagi sama antara satu dan yang lainnya.

Loading...

Pernyataan tersebut barangkali sebuah pernyataan yang non-literal karena memandang bahwa ritual-ritual keagamaan adalah sebuah ritual biasa, terletak pada sisi luar sebuah agama—sedangkan intinya adalah Tuhan itu sendiri. Pembedaan itu pertama kali dilakukan oleh Fritjof Schuön yang membagi sakralitas keagamaan menjadi Esoterik (Tuhan) dan Eksoterik (ritual keagamaan).

Singkatnya, tidak boleh ada agama apa pun yang melakukan klaim kebenaran atau sebaliknya agama-agama harus merasa salah bersama-sama. Keadaan yang menganggap benar semua agama justru mematikan kebenaran yang utama (the real ultimate truth).

Tanpa dinafikan, permasalahan lain umat beragama di dunia bukan hanya perkara eksklusivitas, namun juga pada inklusivitasnya sendiri. Siapa yang tidak mengamini pandangan ini, akan dicap sebagai anti-pluralitas dan intoleran. Jika dicermati, pandangan bahwa agama adalah sesuatu yang ekslusif bagi ummatnya adalah salah satu faktor yang menyebabkan intoleransi dan kekerasan.

Pandangan pluralisme ekstrim yang seperti ini bermula pada logika-logika sederhana yang mengukur pikiran Tuhan seandainya individu yang baik budi pekertinya, namun hanya perkara tidak menyembah Tuhan dari salah satu agama, maka akan tetap masuk ke jurang neraka. Meskipun, agama-agama yang ada di dunia beserta Tuhan-Tuhan dari masing-masing agama tersebut tegas terhadap penetepannya antara “kafir” dan “ummat agama-Nya”.

Hans Kung, seorang Teolog Katolik, memaparkan adanya empat posisi dalam kebenaran agama. Pertama, semua agama adalah salah. Ini adalah posisi kaum atheis. Kedua, hanya ada satu agama yang benar.

Bagi Kung, posisi adalah posisi kaum katolik tradisional, seperti: Origen, Cyprian, Augustine, dan dibakukan dalam Konsili Lateran IV (1215). Konsili Florence (1442) menegaskan, jalan keselamatan adalah menjadi anggota gereja Katolik. Pada saat itu, kaum pluralis dan inklusifis dari Katolik terus menentang posisi kebenaran mengenai agama ini, mereka menentang doktrin eksklusif Gereja, extra ecclesiam nulla salus, di luar Gereja tidak ada keselamatan.

Ketiga, semua agama adalah benar. Pandangan ini diusung oleh Fritjof Schuon dkk. Mengulas antara padanan esoterik (esensi dari agama atau Tuhan itu sendiri) dan eksoterik (eksistensi dari ritual-ritual keagamaan). Padahal, fakta itu sendiri berbicara bahwa agama-agama adalah berbeda dan bermuara pada pertanyaan agama mana yang benar dan apa definisi dari agama itu sendiri.

Keempat, satu agama adalah yang benar dan semua agama berperan dalam kebenaran satu agama. Gagasan ini cenderung mengarah pada sinkretiasi (penyerasian) dan pembentukan agama yang baru.

Dari empat posisi yang diusung Hans Kung tersebut, tentu saja membuat kita berpikir, agama apa yang benar atau apakah agama-agama sejatinya sama saja? Pandangan bahwa semua agama sama tercipta dari semangat perdamaian agar umat manusia tidak memandang manusia lainnya berdasarkan agama, tapi lebih mengedepankan kemanusiaan. Dalam tataran ini, boleh jadi benar.

Di sisi lain, sejarah manusia diisi oleh peperangan yang mengandung perbedaan pandangan yang didasarkan prinsip-prinsip agama, yang lebih pelik adalah ketika manusia menggunakan nama-nama agama untuk berperang namun pada dasarnya bukan berperang karena alasan agama melainkan kepentingan politik. Horor inilah yang menyebabkan manusia mencoba memisahkan agama-agama dari sendi-sendi kehidupan dan ragu akan agama itu sendiri.

Sebagai contoh, cikal bakal munculnya sekularisme pada Masa Pencerahan di Eropa didasari oleh traumatik bangsa Barat terhadap campur tangan agama ke dalam urusan politik (Kerajaan) dan di saat bersamaan revolusi sains dan teknologi menjadi faktor penambah untuk menguatkan prinsip sekularisme di Barat. Lalu, manusia jenuh akan itu sehingga mencari kedamaian hidup dan kembali kepada agama.

Akan tetapi, karena kepalang basah dan agama-agama harus dicocokkan dengan budaya dan dimodifikasi, muncullah pernyataan bahwa agama-agama sebenarnya sama saja, agama-agama boleh berbeda namun bertuju pada satu sumber; Tuhan—dan tentu saja, kita bisa hidup dengan damai di atas pandangan ini.

Tentu saja, hal itu menentang akal pikir manusia; bagaimana bisa ummat agama A akan membenarkan pandangan keagamaan B atau sebaliknya dalam kasus keagamaan? Jika dilihat lebih dalam, jika individu atau kelompok mendaku bahwa agamanya adalah agama yang paling benar, tentu saja itu bukan merupakan pandangan yang intoleran atau subversif terhadap ummat agama lain. Mengakui bahwa agamanya adalah agama yang paling benar adalah bagian dari iman itu sendiri atau berkomitmen terhadap kebenaran yang ia miliki (comiiting to their own truth).

Agama memang alamiahnya adalah eksklusif untuk ummatnya sendiri dalam perkara akidah. Jika dikatakan agama-agama laiknya jalan-jalan menuju satu pintu, belum berarti dapat dilegitimasi bahwa semua agama adalah benar dan sama sebab akan menafikan idealisme keagamaan yang tidak mengakui Tuhan lain selain Tuhan di agama tersebut.

Sisi universalitas dari agama-agama hanya mengajak dan mengajarkan ke jalan kebaikan, bukan menyamakan secara fundamental baik prinsip, akidah, iman, serta pandangan tentang Tuhan. Tentu saja, langkah yang paing adil dalam memandang ini seharusnya mengakui bahwa tidak ada agama-agama yang sama dan sejatinya kehidupan manusia dan agama-agama selaras dan membagi dua kebenaran untuk manusia.

Semua agama bisa sama dalam alam imanen (non-sakral), misal, untuk mengajak kebaikan terhadap sesama manusia, ciptaan Tuhan, membantu kaum miskin, mengedepankan kepentingan bersama, dll. Dalam ranah ini, agama-agama bergerak melalui semangat berkemanusiaan dan memanusiakan manusia.

Akan tetapi, semua agama tidak akan penah sama dalam alam transendensi (hubungan antara manusia dan Tuhannya) sebab dalam alam ini, mengandung beberapa prinsip-prinsip fundamental keagamaan seperti iman, akidah, dll. Agama-agama hanya akan sama dalam permasalahan profanitas atau yang non-sakral.

Tentu saja, dengan fakta bahwa sebenarnya agama tidak pernah ada yang sama, manusia tetap bisa hidup berperikemanusiaan, dan bukankah dengan perbedaan itu, kita masih dianjurkan untuk hidup rukun antar umat beragama?

Baca juga:

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *