Bank Indonesia (BI)

5 Jurus Jitu Gubernur BI Hadapi Tantangan Pasar Industri Halal Global

sumber : Bank Indonesia
Loading...

Potensi pasar industri halal global menunjukkan tren yang meningkat. Hal tersebut sejalan dengan populasi penduduk muslim sebanyak 1,84 miliar atau sekitar 24,4 persen dari populasi dunia. Untuk itu, Indonesia harus memiliki jurus jitu hadapi tantangan pasar industri halal global.

Seperti disitat dalam laman resmi Bank Indonesia (BI) www.bi.go.id (14/11), potensi pengembangan sektor usaha berbasis syariah serta halal telah menjadi pilihan gaya hidup baik bagi muslim maupun non-muslim. Dalam catatan Global Islamic Economy Report, industri makanan halal akan bernilai US $ 1,8 triliun pada akhir 2023. Disusul industri pariwisata halal bernilai US $ 274 miliar, dan industri mode halal akan bernilai US $ 361 miliar.

Hanya saja, untuk mendorong potensi tersebut, Indonesia harus memiliki langkah antisipatif untuk menjawab beberapa tantangan antara lain, perkembangan digitalisasi, perlunya konvergensi internasional, tata kelola industri halal, dan regulasi yang tepat di seluruh dunia termasuk mekanisme pembiayaan syariah yang dapat dipertanggung jawabkan dan selalu berusaha menghasilkan barang dan jasa yang halal.

Menurut Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, ada lima jurus untuk mendorong industri halal di Indonesia. ). Implementasi lima jurus tersebut dapat menjadi kunci untuk menjadikan Indonesia tidak hanya sebagai pasar tetapi juga sebagai basis produksi industri halal global. Hal tersebut disampaikan dalam konferensi INHALIFE yang bertajuk “Creating Halal Champions Accessing to The Global Halal Markets : “From Potency to Reality”, sebagai rangkaian kegiatan ISEF 2019 pada hari ini (14/11) di Jakarta.

Jurus satu: Competitiveness (daya saing) 
Jurus ini dapat dilakukan melalui pemetaan sektor-sektor potensial yang dapat dikembangkan, seperti sektor makanan dan minuman, fashion, wisata, dan ekonomi digital.

Jurus dua: Certification (sertifikasi)
Jurus ini diperlukan untuk memperluas akses pasar. Para pengambil kebijakan dan pelaku perlu bersama mendorong agar barang dan jasa yang dihasilkan memperoleh sertifikasi halal. 

Jurus tiga: Coordination (koordinasi) 
Koordinasi dan sinergi kebijakan dan program antara pemerintah, Bank Indonesia dan lembaga terkait diperlukan untuk menjadikan ekonomi syariah sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. 

Jurus empat: Campaign (Promosi) 
Promosi diperlukan untuk memperkenalkan kepada publik bahwa gaya hidup halal bersifat universal, tidak hanya untuk muslim, namun juga untuk nonmuslim. 

Jurus lima: Corporation (kerja sama) 
Perlu adanya kerja sama antara pemangku kepentingan industri halal nasional dan internasional adalah juga prasyarat untuk membangun dan mengembangkan industri halal global.

Sekadar informasi, suang ini akan membahas perihal fesyen atis dan berkelanjutan dalam mendukung Indonesia jadi pemain di industri halal global di dalam Sustainable & Ethical Fashion. Ini merupakan rangkaian kegiatan ISEF 2019 atas kerjasama BI, Indonesia Fashion Chamber (IFC), dan Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) – dan sebagai salah satu implementasi pengembangan industri halal di bidang fesyen.
 



Loading...




[Ikuti Terus Kawula.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar